KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Bagi para pengguna iPhone, perdebatan mengenai pilihan browser terbaik antara Safari dan Google Chrome sering kali berujung pada faktor privasi. Safari besutan Apple selama ini diunggulkan karena dinilai lebih ketat menjaga data pribadi pengguna dibandingkan Chrome, sehingga menjadi pilihan utama bagi mereka yang enggan membagikan riwayat aktivitas digitalnya kepada Google.
Secara bawaan (default), Safari dilengkapi berbagai fitur perlindungan canggih. Browser ini menggunakan kecerdasan buatan (machine learning) untuk memblokir cookie pihak ketiga guna membatasi pelacakan lintas situs, menyembunyikan alamat IP dari pelacak terdeteksi, serta menghapus parameter identitas pada URL tertentu.
Mengutip laporan Engadget, Jumat (25/9/2026), serangkaian fitur tersebut dirancang untuk memutus rantai pengumpulan data saat pengguna berselancar, melakukan pencarian, berbelanja online, hingga membangun profil perilaku digital. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa perlindungan Safari tidak setara dengan layanan Virtual Private Network (VPN) berkualitas, sehingga efektivitas privasinya mulai dipertanyakan.
Menganalisis Privasi vs Keamanan
Penting bagi pengguna untuk memahami perbedaan antara privasi dan keamanan digital. Privasi berfokus pada kontrol atas bagaimana data pribadi dikumpulkan dan digunakan oleh pihak ketiga. Sementara keamanan merujuk pada upaya perlindungan data dari serangan peretas (hacker).
Dari sisi privasi, Safari bekerja mencegah pengiklan mengenali identitas pengguna saat berpindah antar situs web. Fitur Private Browsing menambah lapisan pertahanan dengan menyembunyikan alamat IP dan memblokir pelacak otomatis.
Sedangkan dari aspek keamanan, Safari terintegrasi dengan teknologi passkey—seperti Face ID atau Touch ID—yang tahan terhadap serangan phishing. Safari juga mempermudah transaksi keuangan aman lewat integrasi Apple Pay tanpa perlu mengetik nomor kartu kredit secara manual.
Celah dan Kekurangan Safari
Kendati dibekali fitur keamanan berlapis, Safari bukan berarti sepenuhnya kebal peretasan. Situs web masih dapat membaca informasi dasar perangkat—seperti perkiraan lokasi—untuk menampilkan halaman secara optimal. Tanpa disadari, pengaturan bawaan Safari kerap membuat pengguna tetap membagikan sebagian data mereka.
Selain itu, Safari belum mampu memverifikasi keaslian suatu situs secara penuh dan tidak bisa mencegah pengguna memasukkan data sensitif pada situs phishing yang menyerupai tampilan aslinya. Fitur Private Browsing juga tidak menyembunyikan aktivitas internet dari Penyedia Jasa Internet (ISP) maupun dari situs web tempat pengguna melakukan login. Artinya, sistem belum bisa melindungi pengguna dari kelalaian mereka sendiri.
Persaingan: Safari, Chrome, dan Brave
Di ekosistem iOS, perbedaan tingkat privasi antar-browser sebenarnya tidak sedrastis yang dikampanyekan. Pasalnya, Apple mewajibkan seluruh browser pihak ketiga—termasuk Chrome, Firefox, dan Brave—menggunakan mesin rendering WebKit milik Safari untuk wilayah di luar Uni Eropa.
Namun, beberapa keunggulan spesifik tetap terlihat pada kompetitor:
-
Brave: Menjadi alternatif utama bagi pengguna yang menginginkan pemblokir iklan dan pelacak yang lebih agresif. Brave menyediakan mesin pencari Brave Search yang sama sekali tidak mengumpulkan data pencarian pengguna. Keunggulan ini berbeda dari Safari yang secara bawaan masih mengandalkan Google sebagai mesin pencari utamanya. Brave juga menyediakan opsi berlangganan VPN/Firewall tambahan.
-
Google Chrome: Tidak seperti Safari yang mengaktifkan fitur perlindungan secara otomatis, Chrome mengharuskan pengguna mengaktifkan sebagian fitur privasi dan keamanannya secara manual.
Bagi sebagian besar pengguna iPhone, Safari tetap menjadi pilihan paling praktis dan optimal karena keterikatan ekosistemnya dengan sistem operasi iOS. Kendati demikian, pengguna yang membutuhkan kontrol privasi lebih ketat dan pemblokiran iklan yang lebih masif disarankan menggunakan browser alternatif seperti Brave atau menambahkan ekstensi pemblokir konten (content blocker) pada Safari.
Para pakar menegaskan, tidak ada sistem privasi browser yang 100 persen sempurna di dunia digital. Tingkat kewaspadaan pengguna dalam berinternet tetap menjadi benteng pertahanan utama.(*)
Editor : Thomas Priyandoko