Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Semarak Persiapan Ramadan di Turki Dirasakan Mahasiswa Paser, Durasi Puasa Bergantung Musim

Ari Arief • Jumat, 8 Maret 2024 | 09:00 WIB

INDONESIA: Henny Wijayanti (kiri) bersama dua mahasiswi lainnya dari Indonesia di Turki.
INDONESIA: Henny Wijayanti (kiri) bersama dua mahasiswi lainnya dari Indonesia di Turki.


Henny Wijayanti, mahasiswi asal Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kaltim yang menempuh pendidikan di Universitas Bandirma Onyedi Eylul Turki pada Fakultas Sosial Sains, Jurusan Leadership and Global Enterpreneur semester akhir sangat merasakan kemeriahan penyambutan bulan Ramadan itu ditempatnya tinggal sekarang. Ia merasakan kemeriahannya sejak sepekan terakhir ini. Di Indonesia sendiri, jadwal puasa mengacu kalender dimulai pada Senin, 11 Maret 2024.

“PUASA tahun ini di Turki masuk musim semi, Maret hingga Mei, dan suasananya terasa sejuk, dan untuk jadwal buka puasa dan imsak pada setiap tahunnya berbeda, tergantung musim,” kata Henny Wijayanti kepada Kaltim Post, Selasa (5/3). Dia menerangkan, bahwa puasa pada musim semi ini sangat berbeda dengan musim lainnya. Ia mencontohkan dengan musim dingin (Desember-Februari) yang durasi berpuasanya berbeda dengan musim lainnya. 
“Kalau masuk di musim dingin itu lumayan enak, ya, karena subuhnya itu siang, seperti subuhnya itu lambat, tapi buka puasanya itu cepat,” ujarnya. “Nah, kalau masuk musim semi standar lah seperti kurang lebih di Indonesia, dan kalau masuk musim panas (Juni-Agustus) itu tidak enaknya di sini puasanya panjang banget karena siangnya lama. Jadi, masuk imsaknya itu early (lebih awal) tapi buka puasanya itu malam banget. Contoh, imsak pukul 03.30 waktu Turki dan buka puasanya sekitar pukul 20.30 waktu Turki, dan panasnya pakai banget pula,” jelasnya. “Kalau di tahun ini sih, alhamdulillah, puasa masuk di musim semi,” tambahnya.
Untuk salat tarawih, Henny Wijayanti mengungkapkan, sama seperti yang berlaku di Indonesia. Misalnya, jamaah perempuan di lantai atas dan di lantai bawah jamaah laki-laki. “Cuma, untuk witirnya di sini agak berbeda, ya. Saya pernah ikut salat witir dan ternyata salah gerakan. Witir di sini itu pada saat rakaat pertama setelah membaca surah-surah pendek lalu takbir itu tidak langsung rukuk, tetapi baca doa dan takbir lagi. Jadi, seperti takbir dua kali begitu,” ujarnya.
Dia mengaku salah mengikuti gerakannya karena selama ini terbiasa mengikuti salat witir yang berlaku di Indonesia, yaitu setelah takbir disusul dengan rukuk. “Aku rukuk duluan. Jadi, aku salah gerakan, dan itu terjadi bersama rekan mahasiswa yang sama-sama dari Indonesia, termasuk sama anak-anak aku. Kok lama banget ya rukuknya, ternyata, mereka masih baca doa sambil berdiri, sementara kami sudah mendahuluinya dengan rukuk seperti salat di Indonesia,” kata Henny sambil tertawa mengenang salat witir yang salah gerakan di negeri dua benua itu. “Itu pengalaman yang sangat memalukan plus lucu,” ujarnya.
Hal lain lagi yang berbeda dengan Indonesia, kata dia, adalah khusus untuk pakaian salat bagi perempuan tidak ada mukena. “Muslimah di sini apabila salat hanya memakai pakaian biasa yang tertutup, kemudian pakai kaus kaki, pakai jilbab. Nah, salah satu uniknya lagi bagi kami orang Indonesia yang salat di masjid itu pasti dilihatin dan dikerumunin karena kita pakai mukena,” katanya. Ia jadi perhatian saat mau salat mengenakan mukena dengan motif atau bordir khas daerah tertentu di Indonesia. “Mereka bilang, lucu dan unik melihat kami pakai mukena,” jelasnya. (bersambung/far)


ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id
Editor : Faroq Zamzami
#Kabupaten Paser #mahasiswa #mahasiswa indonesia