Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Semarak Persiapan Ramadan di Turki Dirasakan Mahasiswa Paser, Sulit Temukan Orang Tak Mampu

Ari Arief • Sabtu, 9 Maret 2024 | 09:05 WIB
SAMBUT: Masjid Paşakonak Bandırma, di sebelah rumah Henny Wijayanti di Turki, juga mulai bersiap-siap menyambut Ramadan tahun ini.   SAMBUT: Masjid Paşakonak Bandırma, di sebelah rumah Henny Wija
SAMBUT: Masjid Paşakonak Bandırma, di sebelah rumah Henny Wijayanti di Turki, juga mulai bersiap-siap menyambut Ramadan tahun ini. SAMBUT: Masjid Paşakonak Bandırma, di sebelah rumah Henny Wija



Selama tinggal di Turki beberapa tahun terakhir ini karena kuliah di Universitas Bandirma Onyedi Eylul Turki pada Fakultas Sosial Sains, Jurusan Leadership and Global Enterpreneur semester akhir, Henny Wijayanti, warga Tanah Grogot, Paser, Kaltim ini turut membentuk semacam komunitas mahasiswa sesama Indonesia. Hal itu sebagai ajang komunikasi dan silaturahmi, utamanya, untuk melakukan berbagai kegiatan Ramadan yang berbeda dengan Indonesia yang memiliki kekhasan tersendiri.

“NAH, pada saat puasa Ramadan, kami biasanya bertemu untuk mengadakan kegiatan khas Indonesia, seperti buka puasa bersama, tilawah bareng. Terus, kadang kami mengadakan berbagi puasa bersama ke orang-orang yang tidak mampu di sini,” kata Henny Wijayanti kepada Kaltim Post, Selasa (5/3).
Dia mengatakan, berbeda dengan di Indonesia, di Turki jumlah orang yang masuk kategori kurang mampu jumlahnya tidak banyak. Untuk menemukan orang tidak mampu itu tim yang terdiri dari mahasiswa dan warga Indonesia lainnya di Turki biasanya menyisir jalan raya untuk menemukan peminta-minta dan petugas penyapu jalan. “Kami berbagi berupa sembako ke mereka-mereka itu untuk keperluan berbuka puasa,” kata Henny Wijayanti.
Setelah berpuasa selama satu bulan kemudian ritual Ramadan diakhiri dengan salat Id. Menurut pengamatannya, salat Id di negara yang secara geografis terletak di Benuo Eropa dan Benua Asia itu berbeda dengan di Indonesia. “Salat Id di Indonesia biasanya perempuan dan laki-laki digabung jadi satu meski itu salatnya di lapangan. Nah, di sini, di Turki itu salat Id-nya tidak ada perempuan di masjid atau di lapangan. Untuk perempuan salat Id di rumah masing-masing,” jelasnya.
Tetapi, kata dia, ada perkumpulan mahasiswa Indonesia di negara yang dipimpin Presiden Reccep Tayip Erdogan itu mengundang sesama warga Indonesia untuk melakukan salat Id bersama yang di dalamnya ada jamaah wanita, seperti kebiasaan di Indonesia. “Atau ada perkumpulan-perkumpulan orang Mesir dan Indonesia biasanya salat Id di sebuah masjid yang ada jamaah perempuannya. Tapi, over all (keseluruhan) saya tidak pernah salat Id di masjid, tapi selalu di rumah. Jadi, di sini, untuk salat Id hanya dilakukan oleh laki-laki, dan kembali lagi tidak ada yang namanya mengucapkan selamat hari raya lebaran, mohon maaf lahir batin itu  tidak ada. Mereka hanya mengucapkan Hayirli Bayramlar atau ucapan selamat hari raya saja, tanpa mohon maaf lahir dan batin,” tuturnya.
Ia mengaku kangen dengan pasar Ramadan di Indonesia. Ia mengatakan ini karena di Turki tidak ada pasar Ramadan. “Ya, begitu-begitu saja makanannya pada umumnya di sini ya seperti itu saja. Sama saja seperti hari biasa. Lainnya, yang tidak ada seperti di Indonesia itu tak ada warung yang ditutup pakai gorden atau apa untuk menghormati orang berpuasa, bebas-bebas saja. Kemudian, ada yang keliling membangunkan sahur dengan tetabuhan, tapi tidak ada teriakan sahur-sahur, seperti di Indonesia,” tutupnya.
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id



Editor : Faroq Zamzami
#Kabupaten Paser #mahasiswa #turki