Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Forum Bisnis Alumni Universitas Brawijaya, Merangkai Potensi dengan Bisnis Kolaboratif

Muhammad Ridhuan • Minggu, 21 April 2024 | 14:36 WIB
FORUM BISNIS: IKatan Alumni Brawijaya (IKA UB) Kaltim menggelar Forum Bisnis secara daring dengan tema Merangkai Potensi dengan Bisnis Kolaboratif, Sabtu (20/4).
FORUM BISNIS: IKatan Alumni Brawijaya (IKA UB) Kaltim menggelar Forum Bisnis secara daring dengan tema Merangkai Potensi dengan Bisnis Kolaboratif, Sabtu (20/4).

SAMARINDA – Sebagai langkah progresif Alumni Universitas Brawijaya (UB) untuk mengenal, mendalami dan turut serta mengelola peluang-peluang bisnis yang ada di Kaltim, baik skala mikro mapun menengah, Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Kaltim menggelar kegiatan Forum Bisnis dengan tema “Merangkai Potensi dengan Bisnis Kolaboratif’’, Sabtu (20/4).

Kegiatan yang berlangsung secara daring tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya. Mulai dari Dyah Ratnaningrum (Alumni UB) yang juga Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur (Kutim) , M. Zainul Rochman (Alumni UB) yang juga Dosen Elektro Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Arif Sudarsono (Alumni UB) yang kini bekerja di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dan  Edi Purwanto selaku Dirut PT Brawijaya Multi Usaha.

Sebagai moderator, Sekretaris IKA UB Kaltim, Ahmad Busri membuka Forum Bisnis menyebut, posisi Kaltim yang strategis sebagai pintu gerbang Kalimantan kini banyak membuka peluang bisnis dan usaha. Apalagi dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN), maka harus bisa disambut oleh para alumni UB.

“Diperlukan sinergi dan kolaborasi antar alumni Universitas Brawijaya untuk mampu menangkap peluang yang ada,” papar Ahmad Busri.

Sebagai narasumber pertama, Kepala DTPHP Kutim Dyah Ratnaningrum membeberkan sejauh mana potensi tanaman pangan, holtikultura dan peternakan yang ada di Kutim. Hingga upaya apa yang sudah dilakukan dinasnya dalam menghadapi IKN. Sehingga dari gambaran tersebut, para alumni UB lain bisa mengambil peluang yang ada.

Salah satu yang menjadi atensi adalah produk olahan pisang yang diproduksi oleh petani di Kecamatan Kaliorang. Yakni pisang segar yang dikeringkan. Dan ketika dimasukkan ke air kembali menjadi pisang segar. Produk ini dalam tayangan yang ditampilkan Dyah dipegang oleh Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Denny Abdi. Di mana pada Januari lalu diluncurkan untuk ekspor ke Belgia dan sedikit ke Vietnam dan Singapura.

“Dalam kebijakan pembangunan pertanian, Kutim memiliki kawasan – kawasan yang menjadi pusat pengembangan produk tertentu. Seperti pisang, nanas, bawang merah dan sebagainya,” ujar alumni UB tahun 1989 itu.

Salah satu top priority holtikultura Kutim adalah produk pisang kepok grecek. Jenisnya sama dengan pisang kepok lain, namun lebih varietasnya lebih unggul dan sudah mendapat SK menteri. Produksinya berasal dari luas wilayah tanam 6.243,76 Ha yang tersebar di sejumlah kecataman. Dengan prioritas di Kecamatan Kaliorang dengan luas 3,5 ribu Ha dan Kaubun 800 Ha. Dan akan dikembangkan sampai Sangkulirang.

“Semua kecamatan ini berada dalam satu hamparan yang berdekatan. Dengan luas lahan panen 4.137 Ha, pada 2023 lalu bisa dihasilkan produksi mencapai 104.612 ton. Dan saat ini kami dari dinas terus mengupayakan bagaimana produksi ini bisa terus kontinyu sehingga bisa mempertahankan kuota ekspor. Termasuk branding dengan kerja sama dengan Kemenkumham,” ucapnya.

Ini karena pengalaman sebelumnya, di mana Kutim yang juga penghasil kakao terpaksa mengalah ketika Berau yang juga menghasilkan kakao lebih dulu memiliki brand. Sementara banyak produk kakao yang ada di Berau berasal dari Kutim. “Kami tidak ingin kondisi ini terulang,” ucap Dyah.

Narasumber kedua, yakni Dosen Elektro Polnes M. Zainul Rochman membagikan pengalamannya sebagai wirausaha di sektor kelistrikan dan elektronik. Di mana untuk bisa bertahan dalam sebuah usaha, seseorang harus bisa menangkap peluang atas apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

“Makanya saya pilih kelistrikan dan elektronik. Karena punya keuntungan diperlukan oleh semua orang dan tidak ada kadaluwarsa,” ujar Zainul.

Menurutnya, memilih produk yang tepat seperti alat kelistrikan dan elektronik selain minim gejolak harga, juga jenisnya tidak banyak berubah seiring perkembangan waktu. Bahkan produk lama masih diperlukan sebagai pengganti produk yang rusak sebelumnya. “Berbeda dengan handphone misalnya. Yang sangat cepat perkembangannya,” ujarnya.

Untuk pembicara ketiga adalah alumni UB di 2010, Arif Sudarsono yang kini bekerja di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Namun selain bekerja di rumah sakit, dirinya juga seorang pengusaha. Pelopor peternakan kambing perah di Kaltim.

“Sejak kuliah saya sudah usaha di Malang. Salah satunya produk es krim jamur yang booming kala itu. Dan ketika kembali ke Kaltim saya juga mengembangkan berbagai bisnis. Namun berbagai bisnis tersebut banyak yang tidak berhasil,” ujarnya.

Hingga pada akhirnya dia terjun di sektor peternakan pada 2020 karena mengambil contoh para rasul. Di mana sektor ini menurutnya lebih memiliki kontinuitas dan banyak diperlukan masyarakat luas. Selain itu juga bisa bermanfaat khususnya dari sisi ibadah.

“Saya mengambil kursus belajar beternak kambing perah di Sleman. Dan memulainya dengan dua ekor kambing di rumah saya. Di mana di Kaltim belum memiliki usaha susu kambing. Masih sebatas untuk diambil dagingnya,” ucapnya.

Data yang dikumpulkannya pada 2022 lalu, ada 4,4 juta ton kebutuhan susu di Indonesia. Angka ini terus meningkat dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Lantaran faktor pertumbuhan penduduk, perbaikan kondisi ekonomi dan lainnya. “Apalagi di Kaltim dengan jumlah penduduk yang bertumbuh masih mengandalkan pasokan susu dari daerah lain terutama Pulau Jawa,” ucapnya.

Berlanjut ke Edi Purwanto selaku Dirut PT Brawijaya Multi Usaha, di mana dirinya menjelaskan saat ini total aktivitas harian di UB mencapai 80 ribu mencakup mahasiswa dan dosen. Ini merupakan market yang besar bagi alumni. Dan dengan status UB yang Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang berdampak pada berkurangnya subsidi pemerintah, maka salah satu penopang pendapatan kampus adalah melalui dunia usaha.

“Rata-rata perputaran dana di UB itu hampir Rp 2 triliun. Dan kami punya target 30 persen dari angka tersebut. Agar adik-adik mahasiswa yang masuk ke UB tidak berat SPP-nya,” ucapnya.

PT Brawijaya Multi Usaha dijelaskannya saat ini menangani sejumlah unit usaha. Seperti UB Guest House yakni hotel setara bintang tiga dan Griya Brawijaya yang biasa dipakai menginap orangtua dan mahasiswa. “kita baru memiliki enggak sampai 1.000 kamar di Griya UB. Padahal setiap tahunnya kita itu kedatangan 13-14 ribu mahasiswa. Sementara kapasitas Griya UB ini masih sangat terbatas. Baru memiliki enggak sampai 1.000 kamar jadi otomatis ini adalah peluang besar yang selama ini banyak dimanfaatkan oleh teman-teman di luar,” sebutnya.

Sementara itu Sekjen IKA UB Pusat Dilan S. Batuparan menjelaskan, dengan adanya Forum Bisnis ini semoga bisa bermanfaat di antara alumni. Saat ini pihaknya mencoba satu hal yang penting yang bernama bidang sinergi bisnis antar alumni ini. Tentu dengan harapan akan menjadi wadah buat alumni yang memilih untuk berbisnis setelah lulus.

“Bisa saling bertemu dan syukur-syukur bisa saling menemukan celah di mana bisa dilakukan kerja sama antara satu dengan yang lain. Memang tantangannya klasik. Pernah 2019 kami coba mempertemukan antara pengelola bisnis di kampus dengan teman-teman yang berbisnis. Sayangnya setelah itu kemudian ya sudah selesai,” ucap Dilan.

Menurutnya, tantangan pertama yang harus segera dicarikan solusinya. Di mana beberapa hari terakhir ini pengurus IKA UB Pusat sedang berdiskusi. Mulai mencoba melangkah membangun data mengenai alumni yang mencari kerja. “Kami pengurus minta supaya mereka bisa membuat satu platform di mana alumni itu bisa mencantumkan data mengenai dirinya dan kualifikasi dirinya jadi semacam full talent gitu,” imbuhnya.

Adapun Penasehat IKA UB Kaltim Tatang Setyawan menyambut baik banyaknya ide dan usulan. Baginya perlu ada pemetaan kerja sama. Misal antara Kaltim dengan daerah luar terkait kebutuhan yang diperlukan.

“Kemudian untuk yang teman-teman merencanakan bagaimana UB nanti bisa untuk mendanai kegiatan-kegiatan UB dalam memberikan sumbangsih bagi Kaltim. Kemudian juga nanti ada IKN jadi bisa berjalan dengan baik. Memilih peluang yang prioritas yang bisa kita lakukan apalagi dengan IKN ini luar biasa sekali peluang usahanya,” ujar Tatang. (rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#IKA UB #IKN #Universitas Brawajiya #kaltim #forum bisnis