Menyusul erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, informasi mengenai paparan gas sulfur dioksida (SO2) yang berpotensi mencapai wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menjadi topik perbincangan hangat.
PENAJAM–Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU) Thohiron mengungkapkan kekhawatirannya atas penyebaran informasi yang belum terverifikasi mengenai dampak gas berbahaya tersebut.
Dalam keterangannya, Thohiron menegaskan pentingnya keakuratan data sebelum mengeluarkan peringatan ke masyarakat. “Kepastian apakah kandungan gas itu sampai ke PPU atau tidak, itu kan perlu data yang akurat, enggak bisa serta-merta dapat info dari instansi lain. Kami enggak bisa berbicara berdasarkan informasi semata, tetapi harus disertai data,” ujarnya.
Dia mengkritik respons yang terlalu cepat dari pihak-pihak yang terlibat, tanpa didukung data konkret. Thohiron menambahkan, penting bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait membangun sistem komunikasi yang efektif dengan masyarakat, terlebih dalam menghadapi potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan gas berbahaya seperti SO2. “Semua kan harus ada ilmunya. Kalau sekadar mengingatkan, kan berdampak kepada pengeluaran masker dan kepanikan orang dan sebagainya. Jadi enggak bisa ikut memberikan peringatan, harus ada data yang akurat dari BMKG,” sebutnya.
DPRD PPU mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU untuk bertindak proaktif dalam mencari dan memverifikasi informasi mengenai sejauh mana bahaya paparan gas SO2 bagi masyarakat lokal.
“Paling tidak BPBD aktif mencari informasi itu, seberapa bahayanya berita itu terhadap bahaya masyarakat yang menghirup. Memang kalau menghirup pasti berbahaya, tetapi sejauh mana konsentrasi gas SO2 sampai di sini,” imbuhnya.
Dalam konteks yang lebih luas, perlu pendalaman terkait sebaran gas SO2 untuk memastikan kandungan gas itu benar-benar telah mencapai PPU atau telah habis terdispersi oleh angin. “Mesti dicari tahu apakah sebaran gas SO2 sudah sampai sini (PPU) atau sudah habis ditiup angin, perlu pendalaman. Kepastian apakah kandungan gas itu sampai ke PPU atau tidak kan perlu data yang akurat, enggak bisa sembarangan,” tegasnya.
Dalam situasi ini, BPBD dan BMKG diharapkan segera menyediakan informasi yang dapat diandalkan sehingga pemerintah daerah dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam melindungi warganya tanpa menimbulkan kepanikan. Keseimbangan antara kesiapsiagaan dan respons tepat sasaran menjadi kunci menghadapi potensi bencana yang diakibatkan fenomena alam seperti erupsi gunung berapi. (ami/dra/k8)
Editor : Dwi Restu A