Pemuda asal Samarinda, Muhammad Roayna Azzam Muntaqo memulai perjalanan meniti cita-citanya sebagai peraih Beasiswa Indonesia Maju (BIM) angkatan ke-3. Dirinya pun memilih untuk melanjutkan studi S1 nya ke Australia.
----
Program Beasiswa Indonesia Maju (BIM) memasuki angkatan ke-3. Di antara ribuan pelamar hingga akhirnya terpilih ratusan anak Indonesia untuk menerima bantuan pendidikan S1 gratis. Sebagai bagian dari program beasiswa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tersebut.
Salah satu penerimanya adalah Muhammad Roayna Azzam Muntaqo. Pemuda asal Samarinda yang baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya di SMA International Islamic Boarding School (IIBS) Thursina Malang, Jawa Timur. Dirinya pun menceritakan proses hingga terpilih sebagai salah satu anak didik Kaltim yang mendapat BIM angkatan ke-3.
“Awalnya di 2022 saat kelas XI SMA. Ada yang namanya program beasiswa persiapan untuk 1,5 tahun ke depan. Saya daftar dan ada 1.300 peserta lainnya se-Indonesia. Seleksi dengan membuat esai dan melampirkan prestasi sampai dikurasi untuk disetarakan level nasional dan internasional. Alhamdulillah lolos. Beasiswa ini untuk melanjutkan BIM itu,” ucap putera dari Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Sonny Sudiar dan Syamdianita tersebut.
Adapun sederet prestasi Azzam selama SMA antara lain, Gold TIMO (Thailand International Mathematical Olympiad) 2020, Gold WMI (World Mathematics Invintational) 2020, Silver HKIMO (Hong Kong International Mathematical Olympiad) 2020.
Kemudian, Silver TIMO 2021, Gold I3O (Indonesia International IoT Olympiad) 2022, Bronze AISEEF (Asean Innovative Sclence, Environmental & Entrepreneur Fair) 2022, Silver WICE (World Invention Competition And Exhibition) 2022, Gold ISIF (International Science and Invention Fair) 2022, dan Gold IAYSF (International Avicenna Youth Science Fair) 2022.
“Lalu di tahun lalu saya mendapatkan Gold (Global Youth Invention and Innovation Fair) 2023,” ujar pria kelahiran Samarinda 16 April 2007 tersebut.
Azzam yang lolos seleksi bersama sekitar 348 peserta lainnya pun mendapatkan beasiswa persiapan. Di mana selama satu setengah tahun, Azzam mengikuti berbagai bimbingan belajar secara daring. Mereka diberikan ilmu dan berbagai pengetahuan seputar bidang sampai pengembangan kemampuan pendidikan yang mereka akan pilih hingga kehidupan saat berkuliah nanti.
“Kami terus dimonitor perkembangannya dari Jakarta. Dari bimbingan tersebut kami dibuat melek. Kalau kampus tempat kami studi tidak akan hanya melihat kami dari kemampuan akademik saja, namun sampai komunikasi, sosial dan juga practical-nya. Dan kami diminta untuk mempraktikan ilmu kami untuk diterapkan di masyarakat,” ujar penghafal 9 Juz Al-Qur’an tersebut.
Cucu dari pensiunan PNS Distrik Navigasi Samarinda Syamsul Bahri tersebut juga mengikuti program musim panas (summer program). Ada tiga pilihan unit kampus untuk luar negeri. Dirinya yang sudah mengincar, akhirnya bisa diterima di Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan meraih rangking ke-25. Selama program tersebut, alumni SD Muhammadiyah 2 Samarinda itu banyak mendapatkan pengalaman berharga bisa berkuliah di luar negeri.
“Untuk BIM-nya saya mengambil studi di Monash University di Melbourne, Australia. Saya tidak sendiri. Ada delapan anak Indonesia lain yang memilih kampus ini. Sementara untuk yang diterima di gelombang pertama total ada 160-an anak. Mereka tersebar di sejumlah kampus di luar negeri lainnya. Termasuk ada tiga anak lain asal Kaltim,” ungkapnya.
Namun sebelum di Monash University, Azzam sebenarnya diterima pula di empat kampus ternama luar negeri lainnya. Mulai dari University of Toronto, di Kanada, University of British Columbia di Kanada, University of Western Australia di Perth Australia dan Curtin University di Perth Australia.
“Tetapi BIM memilih untuk menempatkan saya di Monash University di Melbourne Australia,” ucapnya.
Di Monash University, Azzam menyebut mengambil program studi Software Engineering. Dengan pelaksanaan kuliah selama 4 tahun. Dari 2024 hingga 2028. Di mana dirinya menyebut dalam prosesnya akan berupaya untuk bisa mengembangkan diri, memperluas jaringan dan koneksi hingga memiliki ilmu yang bisa mengantarkan mimpi untuk mendirikan sebuah perusahaan.
“Di sana pun setelah saya lulus, masih bisa dikasih kesempatan kalau mau bekerja maksimal 2 tahun. Dan selama saya kuliah semua biaya pendidikan, kesehatan, transport, tempat tinggal dan uang saku ditanggung. Dan informasi dari kakak tingkat yang sudah berkuliah di sana itu dapatnya sampai bisa menabung,” ucapnya.
Ke depan, dirinya mengaku akan melihat di mana kesempatannya terbuka. Meski memiliki keinginan bisa melanjutkan studi di luar negeri dan mengejar karier di sana, namun ada mimpinya untuk bisa memajukan dunia digital dan teknologi di Indonesia. Karena seperti penerima program beasiswa dari pemerintah, Azzam menyebut ada kemungkinan proses pengabdian kepada negara. Meski disebutnya untuk BIM tidak selama penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Kalau saya melihat waktu. Karena setiap keinginan saya bisa berubah seiring waktu. Saat ini fokus dulu untuk studi dan mencari pengalaman jika waktunya magang nanti. Namun tetap di mana pun itu pasti masih berada di ruang lingkup computer scientist,” ujarnya. (*)
Editor : Muhammad Ridhuan