Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kecanduan Gadget dan Medsos Mengkhawatirkan, Ganggu Kesehatan Mental

Ari Arief • Sabtu, 29 Juni 2024 | 08:52 WIB

Ilustrasi (FOTO: Jawa Pos)
Ilustrasi (FOTO: Jawa Pos)
KALTIMPOST.ID, Kecanduan penggunaan perangkat seluler (HP) dan media sosial (medsos) di Indonesia, termasuk di Penajam Paser Utara (PPU), kian memprihatinkan.

Hal ini dapat berakibat pada ketergantungan (adiksi) dan gangguan psikiatri. Dokter psikiatri Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung (RAPB) PPU, dr. Andi Asri Arief, SpKj, mengimbau agar masyarakat segera mencari pertolongan sebelum kecanduan semakin parah. “Seseorang yang mengalami ketergantungan tentu akan kehilangan produktivitasnya," ujar dr. Andi Asri Arief kepada media ini.

Ia menjelaskan, pecandu HP yang kecanduan medsos akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bermain HP. Jika kebiasaan ini dihentikan, mereka akan mengalami withdrawal syndrome, seperti mudah marah, gelisah, cemas, dan sulit tidur. "Kecanduan HP ini dapat merusak kesehatan mental dan menyebabkan gangguan psikiatri lain seperti depresi, gangguan cemas, dan gangguan tidur. Bahkan, pernah ada kasus pasien yang dirawat di rumah sakit di Samarinda karena kecanduan HP," ungkap dr. Andi.

Kekhawatiran ini diperparah dengan data State of Mobile 2024 yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan waktu penggunaan perangkat seluler terlama di dunia. Rata-rata 6,05 jam per hari per orang pada tahun 2023. "Dampak negatif medsos, terutama melalui HP, memang perlu ditanggapi serius oleh pemerintah dan pemangku kepentingan," kata dr. Andi. Meskipun begitu, ia juga menekankan bahwa pengendalian diri pengguna HP sangatlah penting. "Jangan sampai menimbulkan kecanduan," pesannya.

Di PPU, lanjut dia, dia menerima rerata 150 pasien per bulan. Rinciannya tiga besar penderita gangguan jiwa, yaitu skizofrenia, depresi sedang, depresi berat. Namun, dia tidak berani memastikan berapa persen dari pasien yang datang berobat kepadanya itu yang menderita akibat kecanduan HP dan medsos.

Dikatakannya, selama berpraktik di RSUD RAPB PPU jumlah pasien yang ditangani itu hanya kecil. Dia menyebut, jumlah penderita gangguan jiwa jauh lebih besar di luar dan tidak berobat secara khusus. “Selama ini, pasien yang datang ke ruang kerja saya karena dirujuk poli lain,” tuturnya.

Editor : Uways Alqadrie