Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Makam Adji Sumegong Hampir Tergusur Akibat Normalisasi Sungai Sepaku

Ahmad Maki • Rabu, 3 Juli 2024 | 12:26 WIB
Keluarga besar Paser Balik - Telake mengunjungi sekaligus memugar makam Panglima Djaga Tuwo Adipati Sepaku usai menggelar baca doa bersama di Rumah Adat Paser, Sepaku. (Foto: Ahmad Maki/KP)
Keluarga besar Paser Balik - Telake mengunjungi sekaligus memugar makam Panglima Djaga Tuwo Adipati Sepaku usai menggelar baca doa bersama di Rumah Adat Paser, Sepaku. (Foto: Ahmad Maki/KP)

PENAJAM – Sarinah tak kuasa menahan kesedihannya ketika menyampaikan beberapa kata di hadapan keluarga besar masyarakat Paser Balik, Yayasan Aji Galeng, dan Dewan Adat Paser Telake – Paser Balik saat melakukan ziarah ke makam Adji Sumegong Gelar Panglima Djaga Tuwo Adipati Sepaku bin Adji Moeda Gelar Adipati Paser Telake – Balik bin Adji Galeng Gelar Panembahan Paser Utara, Rabu (26/6).

Sarinah merasa sedih karena banyak keluarganya tidak mengetahui keberadaan makam Adji Sumegong. Sejak kecil, Sarinah rutin mengunjungi makam bersama neneknya, baik untuk berziarah maupun membersihkan makam.

"Hari ini saya tegaskan, inilah makam Adji Sumegong dengan Gelar Panglima Djaga Tuwo Adipati Sepaku bin Adji Moeda Gelar Adipati Paser Telake – Balik bin Adji Galeng Gelar Panembahan Paser Utara, salah satu tokoh pejuang Paser Telake – Balik," kata Sarinah.

Makam ini berada di kawasan Tunden atau Gunung Keranji, Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Sarinah menjelaskan bahwa makam ini sudah ada sejak tahun 1350 Hijriah.

Istri Adji Sumegong juga dimakamkan di sampingnya. Namun, makam ini terancam digusur akibat proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang melibatkan normalisasi sungai Sepaku sejauh 50 meter dari bibir sungai.

"Kami sudah mengajukan makam ini sebagai cagar budaya sejak tahun 2019 melalui pemerintah PPU," ujarnya.

Kondisi makam yang terletak di samping bibir sungai Sepaku menyebabkan tanah di bawah makam tergerus aliran sungai. Akibatnya, posisi makam saat ini tergantung pada pondasi jalan makam.

Perhatian untuk Cagar Budaya

Sarinah berharap pemerintah Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperhatikan cagar budaya di Sepaku. Ketua Yayasan Adji Galeng, Bambang Arwanto, juga sependapat.

Dia berharap pemerintah OIKN memperhatikan makam Adji Sumegong sebagaimana disampaikan oleh Deputi Pengendalian Pembangunan Otorita IKN, Thomas Umbu Pati, yang hadir dalam Haul Akbar dan Doa Bersama untuk mengenang tokoh pejuang Paser Telake – Balik.

"Aspirasi warga Paser Balik – Telake adalah agar nama-nama tokoh pejuang digunakan sebagai nama gedung atau jalan di wilayah IKN," kata Bambang.

Adji Sumegong Gelar Panglima Djaga Tuwo Adipati Sepaku adalah sosok pemimpin wilayah adat suku Paser Balik yang dikenal sebagai pelindung dan pengayom masyarakat adat Paser Balik pada masanya.

Sejarah Aji Galeng

Sejarah Aji Galeng sebagai Panembahan Paser Utara tidak lepas dari hubungan pernikahan Sultan Aji Muhammad Idris (Sultan Kutai ke-14) dengan Aji Doya, anak Sultan Paser, pada tahun 1732 dengan tanah Telake sebagai hadiah perkawinan.

Pada tahun 1812, terjadi pernikahan Sultan Salehuddin (Sultan Kutai ke-16) dengan Aji Ratu Jawiah, anak Sultan Paser, yang memberikan tanah Balik sebagai hadiah perkawinan.

Tanah hadiah perkawinan tersebut termasuk goa walet milik Sultan Paser yang diberikan kepada menantunya. Sarang burung walet ini menjadi incaran penjajah Inggris dan Belanda.

Pada tahun 1820, Aji Galeng berhasil memukul mundur pasukan Inggris yang berusaha merebut goa walet tersebut di Kepala Toyu. Keberhasilan Aji Galeng membuat Sultan Salehuddin yakin bahwa Aji Galeng pantas menjaga Paser Utara.

Pada tahun 1821, Aji Galeng ditabalkan sebagai Panembahan Paser Utara yang berpusat di Lembakan.

Peradaban Paser Utara dibangun oleh Aji Galeng dengan menobatkan pamannya, Aji Jaya, sebagai Adipati Sepaku pertama pada tahun 1822. Setelah Aji Jaya, jabatan tersebut dilanjutkan oleh Pangeran Muda Long Toyu dan kemudian Aji Sumegong dengan Gelar Panglima Jaga Tuwo pada tahun 1890.

Sejarah mencatat peperangan besar yang dipimpin Aji Galeng di Sepaku pada tahun 1825 melawan Belanda dan pada tahun 1880 oleh Aji Sumegong untuk memukul mundur Belanda yang ingin merebut goa walet di Toyu dan Sepaku. (ami)

Editor : Thomas Dwi Priyandoko