Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Putri Petung, Anak Kandung Kakah Ukop-Putri Salika: Meluruskan Mitos dan Legenda, Mengungkap Fakta Sejarah

Ari Arief • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 12:03 WIB

 

 

DIABADIKAN: Di PPU, Putri Petung atau Putri Botung diabadikan menjadi nama rumah sakit umum daerah (RSUD Ratu Aji Putri Botung).
DIABADIKAN: Di PPU, Putri Petung atau Putri Botung diabadikan menjadi nama rumah sakit umum daerah (RSUD Ratu Aji Putri Botung).

 

KALTIMPOST.ID, Masyarakat adat Paser tiba-tiba gelisah menyikapi tentang sejarah Putri Petung.

Persoalannya, selama bertahun-tahun, kisah Putri Petung ini kerap dihiasi dengan nuansa mistis, mitos, dan legenda, seperti kelahirannya dari dalam sebuah bambu.

Namun, berdasarkan penelusuran sejarah yang lebih mendalam dan informasi yang disampaikan oleh Paida Riansyah, seorang narasumber kompeten pada Lembaga Adat Paser (LAP) Penajam Paser Utara (PPU), kisah sebenarnya jauh lebih manusiawi dan berakar pada sejarah.

Ratu Aji Putri Botung, atau yang lebih dikenal sebagai Putri Petung, dan kini nama itu diabadikan untuk sebuah nama rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU, adalah seorang tokoh sejarah yang sangat penting bagi Kesultanan Paser.

Berdasarkan penuturan Paida Riansyah kepada Kaltim Post yang juga merasa penasaran terhadap tokoh ini, baru-baru ini, Putri Petung bukanlah hasil dari kisah mistis, melainkan anak kandung dari pasangan Kakah Ukop/Dato' Temindong Doyong dan Putri Salika.

Meski Putri Salika telah berusia 40 tahun lebih ketika melahirkan, hal ini tidak mengurangi keabsahan status Putri Petung sebagai anak biologis.

Sejak kecil, urai Paidah Riansyah, Putri Petung, yang oleh Pemkab Paser diabadikan pada sebuah taman di pinggir Kota Tanah Grogot, telah menunjukkan potensi kepemimpinan yang luar biasa.

Setelah dewasa, ia dinobatkan menjadi ratu di negeri Paser dan membawa kerajaan tersebut menuju kejayaan. Salah satu peristiwa penting dalam hidupnya adalah pernikahannya dengan Abu Mansyur Indra Jaya, seorang penyebar agama Islam dari Giri-Demak.

Pernikahan ini menandai masuknya Islam ke wilayah Paser dan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan kerajaan.

Dijelaskannya, bahwa  dari pernikahannya dengan Abu Mansyur Indra Jaya, Putri Petung dikaruniai beberapa orang anak, yaitu Aji Mas Nata Berlindung, Aji Mas Arum Indra, Aji Mas Pati Indra, dan Aji Putri Mitir.

“Keturunan dari anak-anak inilah yang kemudian menjadi cikal bakal raja-raja dan ulama di Kesultanan Paser,” kata Paidah Riansyah.

Dia kemudian menyimpulkan, bahwa kisah Putri Petung yang selama ini dipenuhi dengan unsur mitos ternyata memiliki dasar sejarah yang kuat.

Melalui penelusuran yang dilakukan oleh Paida Riansyah dan sumber-sumber sejarah lainnya, dia dapat menyimpulkan bahwa Putri Petung adalah seorang tokoh nyata yang memiliki peran penting dalam sejarah Kesultanan Paser.

Taman Putri Petung di Kota Tanah Grogot.
Taman Putri Petung di Kota Tanah Grogot.

 

Kisahnya menjadi bukti bahwa sejarah sering kali lebih menarik dan kompleks daripada sekadar dongeng. Dia memandang pentingnya pelurusan sejarah Putri Petung ini memiliki beberapa implikasi penting.

Yaitu, mengembalikan martabat sejarah, karena dengan meluruskan mitos, dapat diberikan penghormatan yang lebih besar kepada sejarah dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.

Di samping memang perlu mendorong penelitian lebih lanjut minat para peneliti untuk menggali lebih dalam tentang sejarah Kesultanan Paser dan tokoh-tokoh di dalamnya.

“Menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Dengan memahami sejarah leluhur, generasi muda dapat lebih menghargai identitas dan warisan budaya mereka,” tegasnya. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#paser #penajam paser utara #Kakah Ukop #Putri Petung #Tanah Grogot