Wastra berasal dari kata serapan bahasa Sanskerta yang berarti sehelai kain. Dibuat secara tradisional. Wastra Nusantara dapat dikatakan sebagai kain tradisional Indonesia.
---
BALIKPAPAN – Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. Salah satunya Dayak. Suku Dayak yang ada di Kaltim pun terdiri dari beberapa etnis. Masing - masing mempunyai seni dan budayanya. Yang paling kasat mata untuk membedakannya adalah bagaimana cara mereka berpakaian dan menghiasi diri. Utamanya saat berlangsungnya acara adat atau seremoni resmi.
Berbagai motif dan warna yang menjadi ciri khas setiap etnis Dayak tersebut merupakan sebuah karya leluhur. Diturunkan lebih banyak dari orangtua ke anak. Oral tanpa meninggalkan catatan. Proses pembuatannya pun tidak direkam. Membuatnya rentan tergerus zaman. Berpotensi punah jika tidak dilestarikan.
Untuk itu selama tiga hari, pada 7-9 November lalu, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltimtara mengadakan Lokakarya Wastra 2024. Mengundang 69 anak muda beserta pendamping. Peserta diberikan materi dan praktik langsung. Bagaimana sejarah hingga cara membuat wastra, kata serapan bahasa Sanskerta yang berarti sehelai kain, khususnya Dayak.
“Wastra Nusantara punya motif dan warna yang sarat makna. Teknik pembuatan pun masih tradisional dan alat-alat tradisional yang pada dasarnya diperoleh dari alam Indonesia yang memiliki falsafah tersendiri,” ungkap Kepala BPK XIV Kaltimtara Lestari usai membuka Lokarya Wastra 2024 di Nusantara Cultural Heritage Festival (NCHF) di Plaza Balikpapan, Kamis (7/11).
Kata Lestari, ini sebagai ikhtiar dalam melestarikan kekayaan wastra di Kaltim. Melibatkan para pelajar, masyarakat umum dan komunitas budaya dan lembaga yang bergerak sejalan dengan agenda pemajuan kebudayaan. “Sehingga kegiatan ini bisa menjadi model minimal yang siap untuk diduplikasi oleh para penggerak kebudayaan di wilayahnya masing-masing,” ucap Lestari.
Curahan Hati lewat Sarut
Pada zaman dahulu, Sarut sebagai tempat seorang wanita mencurahkan isi hati dari lubuk hatinya yang paling dalam, di lembaran kain hitam dengan benang putih yang terbuat dari serat daun nanas. Kerajinan yang hampir punah ini hanya ditekuni oleh sebagian masyarakat Kutai Barat (Kubar). Salah satunya di Kampung Bomboy, Kecamatan Damai.
Semua karya seni dari orang Dayak Benuaq, Kampung Muara Bomboy memiliki makna terselubung, tidak semua mampu menerjemahkannya karena banyak hal yang dianggap tabu untuk disampaikan secara lisan. Ciri khas Sarut memiliki keanggunan motif dan warna-warna yang indah.
Adapun kerangka dasar dari rangkaian Sarut adalah, daotn pamukng, butukng ampus, sempulakng anyakng, sikutn pawikng, sengkor longan dan lainnya. Setelah disatukan dan berpadu dalam sebuah kain, maka itulah yang disebut sarut.
“Banyak makna terkandung dalam Sarut Warisan dari para pendahulu, masih menjadi bahan renungan bersama khususnya bagi masyarakat Dayak Benuaq, Kampung Bomboy,” ungkap Seki, salah satu perajin Sarut yang diundang BPK XIV Kaltimtara dalam Lokakarya Wastra 2024 di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (8/11).
Soal motif pun beragam. Namun yang secara garis besar ada empat yang berhasil diliterasikan maknanya. Antara lain, Sengkopit Sikutn Pawikng (nama ulap – Simpei Seramin Ngampitn). Lalu Sikutn Pawikng Butukng Ampus (nama ulap – Saraketn Tana, Nyerinuq Olukng Layuq). Kemudian ada Sengkoit Pakutn Rewirau (nama ulap - Serempaiq Nese tangkei Ngeno Ore). Terakhir ada motif Sengkoit Daotn Panukng (nama ulap – Bitekng Nurutn Rakutn, Jautn Senelengkeu Ineq Leleu).
“Kunci dari membuat Sarut adalah hati dan pikiran yang tenang. Karena ada kegundahan sedikit saja pasti tidak akan jadi. Apalagi perajin aslinya tidak menggunakan pola. Murni menyarut di atas kain. Dulu aslinya yang digunakan hanya kain hitam dan benang putih. Saat ini sudah ada yang pakai kain merah dengan tambahan warna beragam,” ucap kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubar tersebut.
Ulap Doyo yang Terkenal
Salah satu kekayaan wastra Kaltim yang sudah dikenal ada pada Tenun Ulap Doyo. Telah tercatat dalam Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013 lalu. Tenun Ulap Doyo sudah terkenal sejak masa Kerajaan Kutai, yang pada saat itu masih berlaku pembedaan sosial berdasarkan kelas dan strata.
Berdasarkan usia Kerajaan Kutai dan kondisi masyarakat kala itu yang beragama Hindu, Tenun Ulap Doyo diperkirakan telah ada dan berkembang sebelum abad ke-17. Dahulu, motif Tenun Ulap Doyo bisa dijadikan pertanda/ciri atau identitas sosial seseorang. Contohnya motif jaunt nguku digunakan oleh kaum mantiq (bangsawan/raja) dan motif waniq ngelukng digunakan oleh golongan marantikaq (orang biasa).
Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat.
“Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar,” jelas Ainah Jaras, praktisi budaya Kubar menjelaskan proses pembuatan Ulap Doyo di Plaza Balikpapan, Jumat (8/11).
Manik-Manik
Suku Dayak Bahau memiliki aksesoris yang masih sangat melekat dengan kehidupan dan budaya yaitu yang terbuat dari anyaman manik-manik. Manik-manik dianyam untuk dijadikan pakaian adat, lavung (topi), gelang, kalung, tas, dan lainnya. Selain Dayak Bahau, pada zaman dahulu setiap suku Dayak mempunyai corak, ciri, motif serta warna tertentu. Salah satu adat budaya yang sampai sekarang masih dilaksanakan adalah pemasangan gelang pada seseorang yaitu pada waktu pemberian nama anak yang baru lahir, pemberian nama seseorang yang diangkat sebagai anak dan pada waktu ada tamu masuk ke kampung atau ke rumah dengan motif tertentu.
“Yang bermakna bahwa anak atau orang tersebut diterima dalam kehidupan kita, dalam kampung kita dengan hati yang tulus, diberikan kesehatan, umur panjang dan murah rezeki,” kata Henderika Huring, perajin manik-manik dari Tering Lama Hulu, Kecamatan Tering, Kubar kepada peserta lokakarya. (rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan