PADA zaman dahulu, Sarut sebagai tempat seorang wanita mencurahkan isi hati dari lubuk hatinya yang paling dalam, di lembaran kain hitam dengan benang putih yang terbuat dari serat daun nanas. Kerajinan yang hampir punah ini hanya ditekuni oleh sebagian masyarakat Kutai Barat (Kubar). Salah satunya di Kampung Bomboy, Kecamatan Damai.
Semua karya seni dari orang Dayak Benuaq, Kampung Muara Bomboy memiliki makna terselubung, tidak semua mampu menerjemahkannya karena banyak hal yang dianggap tabu untuk disampaikan secara lisan. Ciri khas Sarut memiliki keanggunan motif dan warna-warna yang indah.
Adapun kerangka dasar dari rangkaian Sarut adalah, daotn pamukng, butukng ampus, sempulakng anyakng, sikutn pawikng, sengkor longan dan lainnya. Setelah disatukan dan berpadu dalam sebuah kain, maka itulah yang disebut sarut.
“Banyak makna terkandung dalam Sarut Warisan dari para pendahulu, masih menjadi bahan renungan bersama khususnya bagi masyarakat Dayak Benuaq, Kampung Bomboy,” ungkap Seki, salah satu perajin Sarut yang diundang Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XIV Kaltimtara dalam Lokakarya Wastra 2024 di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (8/11).
Soal motif pun beragam. Namun yang secara garis besar ada empat yang berhasil diliterasikan maknanya. Antara lain, Sengkopit Sikutn Pawikng (nama ulap – Simpei Seramin Ngampitn). Simpei adalah nama ikatan untuk menyatukan dua kayu yang melintang, ikatan dari rotan yang dianyam. Tetapi seramin nampitn tidak ada bendanya.
“Untuk maknanya, ketika kita menikahkan seorang pria dengan seorang wanita akan tercipta keluarga baru, agar keluarga baru dapat hidup rukun, tidak terlepas dari peran kedua orangtua mempelai untuk membina dan memberi contoh yang baik,” ucap Seki.
Lalu Sikutn Pawikng Butukng Ampus (nama ulap – Saraketn Tana, Nyerinuq Olukng Layuq). Saraketn Tana adalah salah satu nama dari dewa tanah, yang selalu menjaga kesuburan tanah. Nyerinuq Olukng Layuq adalah meratapi tumbuhan Olukng, sejenis anggrek yang layu kering dan mati.
Bermakna, menggambarkan seorang pemimpin yang mengasuh, membimbing, mendidik dan membina bawahannya dengan baik. Namun untung tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak. Salah satu bawahan tersandung kasus berat dan atasan tidak berdaya menolong bawahannya.
“Lantas ada Sengkoit Pakutn Rewirau, dengan nama ulap - Serempaiq Nese tangkei Ngeno Ore. Serempaiq adalah laba-laba besar, Nese adalah berdendang, Tangkai Ngeno Ore, tangai rotan manau yang dinyanyikan namun tidak bisa menjadi buah. Dengan kata lain seekor laba-laba selalu bernyanyi untuk tangkai bunga rotan Manau agar bisa berbuah, namun tidak bisa berbuah karena manau ini hanya bisa berbunga,” jelas Seki kepada peserta lokarya.
Adapun maknanya, kepada setiap insan, bahwa khayalan yang terlalu tinggi dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin adalah hal yang merugikan.
Terakhir ada motif Sengkoit Daotn Panukng (nama ulap – Bitekng Nurutn Rakutn, Jautn Senelengkeu Ineq Leleu). Bintekng Nurutn Jautn adalah bintang turun ke gumpalan awan. Senelengkeu Ineq Leleu adalah bintang selalu terselubung oleh awan tebal, sehingga cahayanya tidak terlihat. Bermakna, merupakan terawangan seorang putri raja ketika ayahnya meninggal dunia, semua kekuasaan, kekayaan dan kejayaan akan berakhir dan beralih ke orang lain. Karena putri raja tersebut tidak sanggup menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja.
Kunci dari membuat Sarut adalah hati dan pikiran yang tenang. Karena ada kegundahan sedikit saja pasti tidak akan jadi. Apalagi perajin aslinya tidak menggunakan pola. Murni menyarut di atas kain. Dulu aslinya yang digunakan hanya kain hitam dan benang putih. Saat ini sudah ada yang pakai kain merah dengan tambahan warna beragam. Pun ada penggunaan lilin dari lebah madu dalam prosesnya.
"Memang saat ini masih ada pengrajinnya termasuk saya. Namun kondisinya Sarut bisa hilang atau punah. Karena semakin minimnya generasi muda kami yang mau menekuni pembuatan Sarut ini. Karena itu kami bersyukur dengan adanya kegiatan lokakarya seperti ini. apalagi mengundang anak-anak muda di Kaltim," ucap kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubar tersebut. (rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan