KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kalimantan Timur (Kaltim) pada Triwulan I 2025 menunjukkan dominasi dari sektor pertambangan. Dari total investasi PMDN Rp 12,6 triliun, lebih dari separuhnya, atau tepatnya Rp 6,94 triliun, disumbang oleh pertambang.
"Angka tersebut mencerminkan 55,08 persen dari keseluruhan realisasi investasi PMDN di Bumi Etam," sebut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Fahmi Prima Laksana.
Menunjukkan posisi Kaltim sebagai salah satu lumbung energi dan mineral terbesar di Indonesia. Tak hanya itu, subsektor pertambangan juga menjadi penyerap tenaga kerja Indonesia (TKI) terbanyak, dengan 4.316 orang atau 35,98 persen dari total TKI yang terserap.
Sehingga sektor itu tidak hanya menarik modal besar, tetapi juga menyediakan lapangan kerja yang substansial bagi masyarakat lokal. Di tengah dominasi pertambangan, subsektor Industri Makanan berhasil menempati posisi kedua sebagai kontributor investasi terbesar.
"Dengan nilai Rp 1,07 triliun, setara 8,52 persen dari total PMDN. Sementara itu, Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya menyusul di urutan ketiga dengan investasi mencapai Rp 834,56 miliar, menyumbang 6,62 persen," tutur Fahmi.
Secara keseluruhan, ada sekitar 22 subsektor usaha yang berkontribusi terhadap nilai investasi PMDN pada Triwulan I 2025. Diversifikasi investasi yang mulai terlihat meskipun masih didominasi oleh sektor primer.
Selain pertambangan, sektor lain juga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Subsektor Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan menyerap TKI terbanyak kedua dengan 2.295 orang atau 19,13 persen. Mengindikasikan potensi besar sektor pertanian dan perkebunan dalam menyediakan pekerjaan.
Kemudian, subsektor Jasa Lainnya juga menunjukkan kontribusi signifikan. "Dengan menyerap 1.765 TKI. Dari total 11.998 tenaga kerja yang terserap oleh PMDN pada Triwulan I 2025, hanya 4 di antaranya adalah tenaga kerja asing (TKA), yang sebagian besar tersebar di subsektor pertambangan dan industri kayu," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki