Kaltim selalu identik dengan gemuruh industri migas. Di balik angka produksi dan strategi pengeboran, ada wajah-wajah yang jarang tampil di permukaan.
---
SOSOK itu bernama Nuring Tyas Wicaksono. Seorang insinyur yang pernah menghabiskan hari-harinya di bawah terik matahari rig pengeboran. Kini, langkahnya beralih ke Negeri Sakura, Jepang. Menapaki dunia akademik di salah satu universitas teknik terbaik di dunia.
Bagi Nuring, perjalanan ini bukan sekadar cerita tentang pendidikan tinggi. Ia adalah kisah tentang ketekunan, dedikasi, dan cinta tanah air yang terus menyala. “Ilmu yang saya pelajari tidak akan berhenti di saya. Semoga bisa menjadi jembatan antara teknologi dan kebutuhan energi di negeri kita,” ujarnya dengan rendah hati.
Jejak akademik Nuring sudah terukir sejak lama. Tahun 2011, ia menyelesaikan studi magister di Yuan Ze University, Taiwan, dengan predikat lulusan terbaik. Risetnya kala itu menyinggung teknologi katalis untuk fuel cell, sebuah bidang yang kini semakin relevan di era transisi energi.
Namun ketika pulang ke Indonesia, laboratorium bukan tempat pertamanya berkarya. Justru panasnya sumur pengeboran Kalimantan Timur yang menjadi ruang pengabdiannya. Di sana, ia dikenal sebagai engineer andalan di PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), sosok yang lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Bersama tim, ia ikut menyusun strategi pengeboran yang aman, efisien, dan berkelanjutan. Kontribusinya menjadi bagian dari capaian PHSS yang berhasil memproduksi 14.000 barel minyak per hari dan 105 juta standar kaki kubik gas per hari, melampaui target RKAP 2025.
“Keberhasilan ini adalah buah sinergi antara perusahaan, pekerja, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Field Manager PHSS, Widhiarto Imam Subarkah, menegaskan pentingnya kerja kolektif.
Menuju Jepang, Membawa Misi
Kini, bab baru menanti. Nuring resmi diterima di program doktoral International Mechanical and Aerospace Engineering Course (IMAC) di Tohoku University, Jepang. Fokus risetnya meliputi mekanika presisi, teknologi mikro/nano, hingga biomekanika, ilmu yang dapat membuka jalan menuju teknologi pengeboran cerdas sekaligus energi baru terbarukan.
Langkahnya ke Jepang bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan wujud pengabdian. Di tengah peralihan energi global, Indonesia membutuhkan lebih banyak insinyur yang mampu berpikir global tanpa melupakan akar lokal. Melihat cermin masa depan Indonesia: berani bermimpi, tekun mengejar ilmu, dan selalu mengaitkannya dengan kepentingan bangsa. (aji/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan