KALTIMPOST.ID, Sebagai daerah tujuan perantau, Kalimantan Timur adalah tempat bertemunya berbagai macam budaya. Tak heran, banyak cerita culture shock sederhana yang kemudian menjadi ramai di media sosial.
Salah satu yang paling klasik dan sering dibicarakan? Pengalaman pertama seorang perantau dari Jawa saat mencoba membeli telur di warung lokal. Utamanya di Balikpapan atau Samarinda.
Banyak dari pendatang, yang membagikan pengalaman kagetnya saat pertama kali pergi ke warung. Niat hati ingin berkata, “Bu, beli telur sekilo,” justru disambut dengan tatapan bingung dan pertanyaan, “Enggak kiloan, mau beli sepiring atau berapa butir?”.
Momen inilah yang menyoroti salah satu perbedaan budaya jual-beli yang unik di Indonesia.
Nah, bertepatan dengan Hari Telur Sedunia yang jatuh pada Jumat, 10 Oktober 2025, yuk kita bedah tradisi unik di balik komoditas sederhana ini!
Di Jawa: Praktis dengan Timbangan
Di sebagian besar wilayah Jawa, terutama di pasar tradisional, telur ayam ras biasanya dijual per kilogram. Kamu akan membeli telur dengan berat tertentu, misalnya 1 kg, dan harganya dihitung berdasarkan berat.
Sistem ini sangat praktis bagi yang membutuhkan telur dalam jumlah banyak, seperti warung makan atau keluarga besar, dan harga per butirnya cenderung lebih hemat.
Di Kaltim: Fleksibel per Butir (atau per Piring)
Sementara di Kalimantan Timur, telur lebih lazim dijual per butir atau per piring (satu rak telur). Cara ini sangat menguntungkan bagi anak kos, perantau yang tinggal sendiri, atau keluarga kecil yang tidak ingin stok telur berlebihan.
Harga per butir di Kaltim saat ini bisa berkisar Rp2.500 hingga Rp3.000, tergantung kondisi pasar.
Kenapa Bisa Berbeda?
Perbedaan ini dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, sistem distribusi, dan skala pasar di masing-masing daerah. Kebiasaan ini umumnya berlaku untuk telur ayam ras (negeri).
Berbeda lagi ceritanya dengan telur ayam kampung atau telur puyuh, yang di kedua daerah seringkali tetap dijual per butir karena harganya yang lebih premium atau ukurannya yang kecil.
Di Jawa, permintaan yang sangat tinggi dan rantai pasok yang lebih pendek memungkinkan penjualan dalam skala besar (kiloan).
Sedangkan di Kaltim, kondisi geografis dan pola konsumsi eceran membuat penjualan per butir menjadi lebih fleksibel bagi pedagang dan pembeli.
Bagian dari Keragaman Budaya
Di momen Hari Telur Sedunia pada 10 Oktober ini, penting untuk mengingat bahwa telur bukan cuma sumber protein terjangkau, tapi juga cerminan budaya dan tradisi ekonomi lokal yang beragam di seluruh Nusantara.
Jadi, kalau kamu sedang merantau atau traveling, jangan kaget ya kalau cara beli telur atau barang lainnya bisa berbeda!
Ini justru bagian dari kekayaan budaya yang membuat Indonesia makin menarik untuk dijelajahi. Kamu ngalamin culture shock saat beli telur juga?
Editor : Hernawati