Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Daerah ke Panggung Internasional, Raihan Apik TCM di Subroto Award 2025 lewat Pelestarian Sarut Dayak Benuaq

Dwi Restu Amrullah • Jumat, 31 Oktober 2025 | 14:05 WIB

 

DIGANJAR PENGHARGAAN: Sebagai salah satu warisan turun-temurun budaya, ada buah manis yang didapatkan tentang melestarikan Sarut Dayak Banuaq bersama PT Trubaindo Coal Mining di Kutai Barat.
DIGANJAR PENGHARGAAN: Sebagai salah satu warisan turun-temurun budaya, ada buah manis yang didapatkan tentang melestarikan Sarut Dayak Banuaq bersama PT Trubaindo Coal Mining di Kutai Barat.

Sarut tradisional Suku Dayak Benuaq telah diwariskan secara turun-temurun di Kutai Barat. Namun, kini menghadapi tantangan akibat modernisasi, menurunnya minat generasi muda, serta terbatasnya akses pasar.

BENTUK tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap keberlanjutan sosial budaya, PT Trubaindo Coal Mining (TCM) mengembangkan inovasi pelestarian sarut melalui pendekatan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) dengan berbagai strategi.

Seperti diversifikasi produk sarut, penyematan QR Code berisi makna dan cerita motif, pemanfaatan bahan ramah lingkungan, serta gelaran festival sarut tahunan yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sejak 2021.

Hingga 2025, pelestarian sarut oleh TCM dan Kiai Panei Penguntai Lawei (KP2L) Kecamatan Damai telah melibatkan 17 kampung dan 22 kelompok perajin sarut di sejumlah desa di wilayah ring 1 dan 2 operasional TCM. Mayoritas anggota kelompok perajin merupakan perempuan yang kini memiliki peningkatan kapasitas, pendapatan, serta akses pasar yang lebih luas.

Nah, atas konsistensi yang dilakukan, TCM yang merupakan anak usaha PT Indo Tambangraya Megah (ITM) Tbk, meraih Penghargaan Subroto Award 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) kategori sosial budaya terinovatif.

Pada malam penganugerahan Subroto Award, yang digelar di Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke- 80, TCM menjadi satu dari enam penerima penghargaan sektor pertambangan batu bara untuk bidang PPM terinovatif. Ratusan perusahaan pemegang IUP/IUPK di Indonesia dinilai pada kategori tersebut.

Penghargaan itu dianugerahkan lantaran TCM dalam mencapai kinerja PPM periode 2024 berbasis RKAB, dan utamanya melestarikan sarut tradisional suku Dayak Benuaq, memadukan upaya pelestarian budaya lokal, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pemanfaatan teknologi untuk mendorong optimalisasi pemasaran produk.

Subroto Award merupakan bentuk apresiasi tertinggi dari Kementerian ESDM kepada berbagai pihak, yang sudah berkontribusi signifikan dalam memajukan sektor energi dan sumber daya mineral di Indonesia dengan rangkaian seleksi yang meliputi administratif serta kelengkapan dokumen, penilaian teknis substansi program PPM melalui presentasi, dan verifikasi lapangan.

Sementara itu, Direktur Utama ITM Mulianto yang menerima langsung penghargaan menyampaikan, capaian itu menjadi bukti nyata sinergi antara perusahaan dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sosial budaya di wilayah operasional.

“Kami percaya keberhasilan pelestarian budaya lokal seperti Sarut Dayak Benuaq adalah bagian penting dari keberlanjutan sosial yang harus berjalan seiring dengan kinerja lingkungan dan ekonomi. Program itu mencerminkan nilai-nilai yang kami junjung tinggi di seluruh anak usaha ITM, dalam membangun harmoni antara bisnis dan masyarakat,” ujarnya.

Atas raihan apik Subroto Award yang diraih, Kepala Teknik Tambang TCM Danang Sabto Nugroho menyampaikan, penghargaan itu menjadi pengakuan atas upaya dan kerja keras seluruh pemangku kepentingan, terlebih dalam mendukung keberlanjutan ekonomi dan budaya bagi masyarakat sekitar.

PENGHARGAAN: Raihan apik buah dari konsistensi, Direktur Utama PT ITM Mulianto menerima peghargaan Subroto Award 2025.
PENGHARGAAN: Raihan apik buah dari konsistensi, Direktur Utama PT ITM Mulianto menerima peghargaan Subroto Award 2025.

“Pelestarian Wastra Sarut adalah wujud dari komitmen dan keinginan kami untuk memastikan warisan budaya lokal tidak sekadar lestari, tetapi juga memberi nilai ekonomi dan kebanggaan bagi masyarakat Dayak Benuaq. Penghargaan yang diraih menjadi bentuk apresiasi bagi seluruh pihak yang terlibat dan bekerja keras dalam program pelestarian Sarut di Kabupaten Kutai Barat. Semoga itu menjadi motivasi dan energi baru bagi semua untuk terus menghadirkan PPM yang berdampak optimal bagi masyarakat,” tegasnya.

Program itu juga berhasil mendorong regenerasi budaya, dengan seni sarut kini masuk dalam kurikulum muatan lokal di sekolah dasar dan menengah di wilayah Damai. Selain itu, sepuluh motif sarut telah terdaftar dan memperoleh hak cipta, menjadi tonggak penting bagi pengakuan kekayaan intelektual daerah.

Inovasi itu semakin kuat dengan adanya kolaborasi antara TCM, Pemkab Kutai Barat, KP2L Kecamatan Damai, Dispar, Dekranas, dan Kementerian ESDM. Kolaborasi luas berhasil menghantarkan produk sarut hingga ke ajang pameran budaya internasional di Finlandia, di mana kekayaan dan keindahan wastra Kalimantan Timur dipamerkan ke tingkat global. (*)

Editor : Dwi Restu A
#ITM #Sarut #Dayak Benuaq