Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Gubernur Rudy Mas'ud Minta Kembangkan Hilirisasi Kelapa Dalam, Berpotensi Jadi Penggerak Ekonomi dan Sumber PAD

ADV • Jumat, 21 November 2025 | 18:28 WIB

 

 

LANGKAH MAJU: Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud meminta jajarannya terus meninkatkan inovasi.
LANGKAH MAJU: Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud meminta jajarannya terus meninkatkan inovasi.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sebagai antisipasi rencana pemotongan dana transfer ke daerah (TKD), Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (Harum) kembali mengingatkan agar terus meningkatkan inovasi. Antara lain dengan mendorong masuknya investasi, termasuk untuk pengembangan hilirisasi kelapa dalam, yakni jenis kelapa berbatang besar, tinggi, dan berumur panjang.

Kelapa dalam, kata Gubernur Harum, memiliki potensi besar dan bisa menjadi salah satu sumber penggerak perekonomian daerah di masa depan, sekaligus sumber pendapatan  asli daerah (PAD) berkelanjutan.

Pengembangan hilirisasi kelapa dalam ini di sisi lain juga akan  melepaskan Kalimantan Timur dari ketergantungan terhadap eksploitasi sumber daya alam tak terbarukan, dengan mengoptimalkan potensi sumber-sumber ekonomi hijau dan terbarukan.

“Penting bagi kita untuk membuka seluas-luasnya investasi pengembangan hilirisasi. Contoh kelapa dalam,” kata Gubernur Harum.

Lebih jauh dijelaskan orang nomor satu Pemprov Kaltim itu bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kelapa dalam terbesar di dunia, karena kelapa hanya bisa tumbuh di negara beriklim tropis.  Potensi besar itu juga tersedia di Kaltim.

“Kelapa dalam ini, potensi hilirisasinya  sangat luar biasa,” sambung Gubernur.

Satu pohon kelapa dalam saja bisa menghasilkan 50-80 butir per tahun. Potensinya Rp 35 juta dari hanya penjualan kopra per hektare per tahun. Sedangkan potensi industri hilirisasi kelapa dalam secara nasional bisa mencapai Rp 2.400 triliun

Dari kelapa dalam bisa dihasilkan kopra. Sementara produk turunannya antara lain minyak kelapa, santan kemasan, serta virgin coconut oil (VCO). Sementara dari sabut kelapa bisa diolah lagi menjadi coco fiber (serat kelapa) dan coco peat (kelapa gambut).

“Produk turunan kelapa dalam sangat diminati pasar global untuk industri makanan sehat, kosmetik dan bahan alami,” tambah Gubernur.

Di pasaran, harga  kelapa dalam berkisar Rp 13 ribu per butir. Namun setelah diolah menjadi produk bernilai tambah harganya menjadi sangat mahal. Kelapa dari Indonesia biasanya dikirim ke Thailand dan Vietnam. Di negara-negara itu kemudian kelapa diolah hingga menjadi produk-produk bermerek setempat.

“Kaltim seharusnya mengambil peluang besar dari kelapa dalam ini. Apalagi, Kaltim memiliki potensi lahan yang masih sangat luas dan bisa dikembangkan untuk penanaman kelapa dalam ini,” tegasnya.

Demi memudahkan perizinan dan promosi, Gubernur Harum meminta seluruh instansi terkait di jajarannya untuk mempermudah segala urusan agar investasi mudah masuk ke Kaltim.

“Kalau bisa dipermudah, mengapa dipersulit.  Mari bekerja keras, cepat dan tepat. Lakukan semuanya dengan ikhlas dan sepenuh hati,”  pesan Gubernur Harum. (*)

 

Editor : Duito Susanto
#pemprov kaltim #Rudy Masud #hilirisasi kelapa dalam #pendapatan asli daerah (PAD)