KALTIMPOST.ID, KALTIM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Kaltim, mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang diprediksi mengguyur wilayah Kaltim pada periode 1 hingga 10 Januari 2026.
Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi yang menyertai cuaca ekstrem tersebut.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis Dasarian I Januari, peluang terjadinya hujan di Kaltim berada pada angka yang cukup tinggi, yakni di atas 70 persen.
Baca Juga: Transformasi Hobi Jadi Sumber Penghasilan, Tren Aktivitas Produktif di Tahun 2026, Ini Caranya!
“Kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak cuaca ini, mulai dari risiko banjir, luapan air sungai, tanah longsor, hingga potensi pohon tumbang akibat angin kencang dan kilat," ungkap Riza dikutip Jumat (2/1).
Ia menjelaskan, secara teknis, sebagian besar wilayah Kaltim diperkirakan akan menerima curah hujan dengan intensitas menengah, berkisar antara 50 hingga 150 milimeter (mm). Namun, terdapat variasi cuaca di beberapa wilayah.
Kaltim bagian Selatan seperti Paser, Penajam Paser Utara, dan sebagian Kutai Barat diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah (0–50 mm) dengan peluang 40–60 persen.
Baca Juga: Waspada! 68 Anak Indonesia Terpapar Ideologi Neo-Nazi melalui Grup Daring
Wilayah atas normal Kabupaten Berau, Kutai Timur bagian barat, serta Samarinda bagian selatan justru berpotensi mengalami curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya (di atas normal), dengan persentase mencapai 116–150 persen.
Selain memetakan potensi hujan ke depan, BMKG juga merilis pantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) pada akhir Desember 2025.
Hasilnya menunjukkan bahwa durasi kering di Kaltim sangatlah singkat, yakni hanya berkisar 1 hingga 5 hari.
Durasi HTH terlama tercatat di Kecamatan Barong Tongkok dan Muara Jawa yang hanya berlangsung selama empat hari sebelum kembali diguyur hujan.
Baca Juga: Cara Akses E-Kinerja BKN yang Benar, Sistem Penilaian Kinerja ASN
Dengan kondisi tanah yang sudah basah dan intensitas hujan yang diprediksi tetap stabil hingga meningkat, koordinasi antara pihak terkait dan kesiapsiagaan mandiri masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak kerugian akibat bencana.(*)
Editor : Dwi Puspitarini