KALTIMPOST.ID, KALTIM-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim menorehkan prestasi gemilang dalam sektor lingkungan dengan mempertahankan 12,69 juta hektare tutupan hutan.
Angka ini merepresentasikan sekitar 62 persen dari luas daratan Benua Etam, sebuah capaian yang jauh melampaui ketentuan nasional yang mematok angka minimal 30 persen.
Berdasarkan data sebaran hijau, Kabupaten Mahakam Ulu menjadi wilayah dengan profil konservasi paling impresif, di mana hutan primer dan sekundernya masih terjaga hingga 80 persen.
Di sisi lain, meskipun menjadi pusat industri dan pertambangan, wilayah Kutai Kartanegara serta Kutai Barat tetap mampu menjaga tutupan hutan di angka 50 persen berkat kebijakan pengawasan yang disiplin.
Baca Juga: 41 Perusahaan Sawit Bayar Denda, Satgas Penertiban Kawasan Hutan Kumpulkan Rp4,7 Triliun
Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi tidak selalu harus mengorbankan kelestarian ekosistem jika dikelola dengan manajemen yang tepat.
Keberhasilan Kaltim dalam menjaga "paru-paru dunia" ini mendapat apresiasi internasional. Melalui skema kompensasi karbon, Bank Dunia telah menyalurkan dana insentif sebesar 110 juta dolar AS kepada pemprov.
Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai berbagai inisiatif lingkungan yang melibatkan peran aktif masyarakat di tingkat akar rumput.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian hutan mampu memberikan manfaat finansial langsung bagi daerah.
Meskipun program reklamasi terus berjalan, akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Ibrahim, mengingatkan bahwa mempertahankan hutan alami jauh lebih krusial.
Ia menilai reklamasi lahan pascatambang sering kali hanya memberikan "kamuflase hijau" namun gagal secara fungsi ekologis.
"Struktur tanah yang sudah rusak akibat tambang membuat tanaman sulit tumbuh optimal. Akar pohon seringkali terhambat lapisan batuan keras dan tanah liat, sehingga ekosistem aslinya tidak benar-benar pulih," jelas Ibrahim kepada wartawan.
Fungsi hidrologis hutan alami, terutama melalui lapisan serasah yang menyerap air hujan, tidak dapat ditiru oleh lahan konversi.
Jika kawasan hulu Sungai Mahakam terus mengalami degradasi, risiko banjir besar di wilayah hilir seperti Samarinda akan semakin tak terkendali akibat pendangkalan sungai dan danau.
Ibrahim menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian di wilayah hulu. Jika serapan air hilang, maka bencana banjir akan terus membayangi kawasan perkotaan di Kaltim.(*)
Editor : Almasrifah