KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Luas baku sawah di Kalimantan Timur sejatinya terbilang besar. Namun di balik angka tersebut, tersimpan persoalan mendasar yang membuat kontribusi sektor pangan belum optimal. Dari total sekitar 46 ribu hektare sawah yang tercatat, hanya sekitar 31 ribu hektare yang benar-benar produktif dan aktif ditanami.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa program cetak sawah baru masih dinilai relevan dan mendesak. Selisih antara luas sawah baku dan sawah produktif menunjukkan adanya lahan yang secara fungsi belum berjalan optimal. Sebagian lahan tercatat sebagai sawah, namun tidak lagi ditanami atau hanya berproduksi terbatas.
Tidak terpakainya sawah tersebut dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari keterbatasan infrastruktur pendukung, kondisi lahan yang tidak lagi ideal, hingga persoalan sosial di tingkat petani. Dalam beberapa kasus, sawah tidak dapat ditanami karena kendala pengairan, sementara di lokasi lain aktivitas pertanian melemah akibat perubahan pola usaha masyarakat.
“Kalau kita lihat angka luas baku sawah, memang cukup besar. Tapi yang betul-betul aktif dan produktif itu jauh lebih kecil,” ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan.
Dia menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan mempertahankan sawah yang ada. Upaya peningkatan produksi pangan perlu disertai dengan langkah strategis, salah satunya melalui cetak sawah baru yang sejak awal dirancang dengan dukungan infrastruktur dan kepastian teknis.
Menurut Fahmi, cetak sawah baru bukan sekadar menambah luasan, tetapi menjadi cara untuk menghadirkan sawah yang siap dikelola secara berkelanjutan. Dengan perencanaan yang matang, lahan baru diharapkan langsung terhubung dengan sistem irigasi, akses jalan usaha tani, serta pendampingan teknis bagi petani.
Kondisi sawah eksisting yang sebagian tidak produktif juga menjadi tantangan tersendiri bagi upaya ketahanan pangan daerah. Ketergantungan pada sawah yang ada tanpa perbaikan struktural berisiko membuat produksi stagnan, terutama di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat.
“Karena itu, cetak sawah tetap dibutuhkan sebagai bagian dari solusi jangka menengah dan panjang,” kata Fahmi.
Dia menambahkan, pemerintah daerah terus memetakan potensi lahan yang dapat dikembangkan, sembari tetap mendorong optimalisasi sawah eksisting melalui program lain. Namun secara realistis, kesenjangan antara luas sawah dan tingkat produktivitas menjadi sinyal bahwa Kaltim tidak bisa hanya bergantung pada kondisi yang ada saat ini. (*)
Editor : Sukri Sikki