SAMARINDA—Gerakan gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Senin (2/2/2026) lalu, mendapat respons oleh pemerintah daerah.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, memastikan Pemprov akan menindaklanjuti program nasional tersebut. Saat ini, pihaknya sudah meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim untuk mulai bergerak.
"Ini program pusat dan instruksi langsung pak presiden, di daerah harus kita laksanakan," ungkapnya, Rabu (11/2/2026).
Untuk diketahui, proyek gentengisasi itu dilakukan untuk mengganti atap rumah warga yang masih menggunakan seng, khususnya di kawasan perdesaan. Tujuan gentengisasi untuk menciptakan suasana rumah yang sejuk dan aman, serta tidak mudah berkarat.
Kendati demikian, Seno belum bisa memastikan kapan pergantian atap itu dilaksanakan. "Masih dalam inventarisir, mudahan nanti dinas terkait bisa menjalankannya dengan baik dan lancar," imbuhnya.
Pada bagian lain, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kaltim, Wahyullah Bandung, berpandangan bahwa implementasu proyek tersebut tidak bisa dilihat secara nasional, melainkan harus melihat kondisi faktual setiap daerah.
Selain itu, material genteng untuk mengganti atap seng rumah warga itu diharapkan bisa membantu pengrajin atau industri yang ada di Kaltim. Pihaknya khawatir material proyek itu nantinya didatangkan dari luar daerah. Akibatnya, ekonomi lokal tersendat sementara biaya operasional pemberangkatan juga membengkak.
"Kita berharapnya materialnya tidak dari luar Kaltim. Selain harga mahal, ternyata enggak cocok nanti. Kalau bisa yang memproduksi orang lokal dilibatkan. Tapi yang perlu dilihat lagi apakah ada pabrik genteng di Kaltim," tanyanya.
Wahyullah menggarisbawahi, budaya bangunan di Kaltim dengan pulau Jawa memiliki perbedaan. Di Jawa misalnya, kata dia, genteng berbahan tanah liat sudah dipalai sejak zaman kerajaan, sementara di Kaltim sangat minim ditemukan, baik dalam kegiatan konstruksi tradisional maupun modern.
Karenanya, lanjut dia, pihaknya menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan riset mendalam dan melibatkan kampus, yang kemudian bisa diimplementasikan di daerah masing-masing.
"Kita harus lihat secara ilmiah, apakah genteng yang dibuat nanti bisa cocok dengan kondisi di Kaltim. Perbandingannya bisa melihat dari sisi lembap, cuaca, dan yang lain," jelasnya.
Lebih lanjut, dia mencontohkan atap rumah berbahan kayu ulin (sirap). Bahan itu, disebutnya pada masa lampau menjadi favorit warga untuk digunakan, selain ketersediaannya yang mudah didapat, daya tahannya juga bagus terhadap kondisi iklim di Kaltim.
Tapi, Wahyu menyebut bahwa sirap kini mulai sulit ditemukan. Sehingga masyarakat memilih atap seng karena harganya murah dan mudah didapatkan. "Karena syarat konstruksi material itu harus mudah didapat dan murah harganya," pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan