KALTIMPOST.ID, BERAU — Investasi hijau mulai mengalir ke Pulau Derawan. Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Rumah Pilah Sampah (Rupia) menjadi bukti kolaborasi sektor konservasi, pemerintah daerah, dan korporasi dalam menjaga keberlanjutan ekonomi di kawasan wisata bahari.
Proyek ini merupakan hasil kerja sama WWF-Indonesia bersama WWF-Netherlands serta mitra korporasi seperti Epson South East Asia dan Hilton Global Foundation. Dukungan tersebut memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan di salah satu destinasi unggulan Kalimantan Timur.
Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia, Candhika Yusuf, menegaskan inisiatif ini bertujuan mengurangi dampak aktivitas wisata terhadap ekosistem laut.
Derawan selama ini bergantung pada sektor pariwisata. Namun tingginya kunjungan wisatawan berbanding lurus dengan lonjakan sampah. Jika tak dikelola, pencemaran laut bisa menurunkan daya tarik wisata yang berarti mengancam perputaran uang masyarakat setempat.
Data Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) 2022 mencatat sampah plastik yang mencemari laut Indonesia mencapai 398.000 ton. Angka tersebut menjadi alarm serius bagi daerah wisata bahari.
Dengan hadirnya TPS3R, Derawan mencoba memutus rantai pencemaran sekaligus menjaga stabilitas ekonomi wisata. Laut yang bersih berarti wisatawan tetap datang, okupansi penginapan terjaga, dan perputaran ekonomi lokal tetap hidup.
Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika, menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan berbagai pihak dalam pembangunan fasilitas tersebut.
"Ke depan, TPS3R RUPIAH diharapkan tak hanya menjadi pusat pengolahan sampah, tetapi juga pusat edukasi dan model replikasi bagi pulau-pulau kecil lainnya," terangnya.
Investasi hijau ini menjadi sinyal bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan strategi ekonomi jangka panjang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo