Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Sayur Anjlok, Daya Tawar Petani Hortikultura Tergerus

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 15 Februari 2026 | 12:08 WIB

 

 

Penurunan NTPH lebih disebabkan melemahnya harga jual hasil pertanian dibanding faktor biaya.   
Penurunan NTPH lebih disebabkan melemahnya harga jual hasil pertanian dibanding faktor biaya.  

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tidak semua subsektor pertanian menikmati awal tahun dengan manis. Di balik kenaikan NTP gabungan, subsektor hortikultura justru mencatatkan kontraksi paling dalam pada Januari 2026.

Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) turun 3,18 persen menjadi 111,55. Penurunan terutama dipicu oleh merosotnya harga hasil produksi yang diterima petani hortikultura.

Statistisi Ahli Madya BPS Kaltim Ariyanti Cahyaningsih menjelaskan, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) di subsektor hortikultura turun 3,19 persen. Hampir seluruh kelompok komoditas terdampak.

“Penurunan terdalam dialami kelompok sayur-sayuran sebesar 4,19 persen, diikuti kelompok tanaman obat-obatan 2,65 persen, dan kelompok buah-buahan sebesar 1,95 persen,” paparnya.

Sementara itu, dari sisi biaya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya turun tipis 0,01 persen. Artinya, penurunan NTPH lebih disebabkan melemahnya harga jual hasil pertanian dibanding faktor biaya.

Kondisi tersebut menunjukkan kerentanan hortikultura terhadap fluktuasi harga pasar. Komoditas seperti sayur dan buah yang sangat bergantung pada pasokan harian dan distribusi cepat lebih mudah terdampak gejolak harga dibanding komoditas perkebunan.

Meski masih berada di atas angka 100, yang berarti secara umum masih dalam posisi surplus. Penurunan tajam itu menjadi sinyal kewaspadaan bagi pelaku usaha hortikultura di Kaltim, khususnya dalam menjaga stabilitas harga dan rantai distribusi. (*)

Editor : Sukri Sikki
#BPS KALTIM #pertanian #holtikultura #NTPH