KALTIMPOST.ID,MALINAU-Pengabdian tenaga kesehatan (nakes) di wilayah pedalaman dan perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali diuji oleh ekstremnya medan.
Sebuah perahu yang membawa rombongan tenaga kesehatan (nakes) dari UPTD Puskesmas Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, dilaporkan karam saat melintasi jalur sungai yang ganas, Jumat (6/3).
Meski perahu terbalik dan terseret arus, seluruh penumpang yang terdiri dari dua orang nakes dan satu motoris dinyatakan selamat.
Insiden nahas ini terjadi saat tim baru saja menyelesaikan tugas pelayanan kesehatan di Desa Long Tebulo dan hendak bergeser menuju Desa Long Uli.
Baca Juga: Warga Kaltim Harus Jeli! Temuan Produk Pangan dan Takjil Berbahaya, Periksa Label sebelum Membeli
Kepala UPTD Puskesmas Long Alango, Elias Sarunan, mengonfirmasi kejadian tersebut.
Ia menyebutkan bahwa kewaspadaan tim dalam menggunakan jaket pelampung menjadi faktor kunci keselamatan mereka.
"Kejadiannya Jumat kemarin. Tim baru saja selesai pelayanan di Long Tebulo dan mau lanjut ke Long Uli. Di tengah perjalanan itulah perahu karam," terang Elias saat dikonfirmasi media massa, Sabtu (7/3).
Logistik Hanyut, Trauma Menghantui
Walaupun tidak ada korban jiwa, kerugian material tak terhindarkan. Mesin ketinting perahu dan sejumlah barang pribadi milik nakes hanyut tertelan arus sungai dan hingga kini belum ditemukan.
Baca Juga: Waspada Campak saat Silaturahmi Lebaran, Kemenkes Ingatkan Warga Tak Sembarang Sentuh Bayi
Beruntung, stok obat-obatan untuk warga aman karena diangkut menggunakan perahu rombongan yang berbeda.
"Mesin ketinting dan perlengkapan pribadi hilang. Untungnya semua pakai pelampung, karena kita tidak tahu siapa yang bisa berenang dan siapa yang tidak," tambahnya.
Elias yang telah bertugas selama empat tahun di pedalaman ini mengakui bahwa trauma adalah musuh terbesar para nakes setelah kecelakaan air.
Apalagi, sejarah mencatat pernah ada dokter yang meninggal dunia akibat kecelakaan serupa di wilayah tersebut beberapa tahun silam.
"Kami sangat khawatir, terutama bagi tenaga dokter bantuan dari pusat. Jika kejadian seperti ini terus berulang, kita takut mereka trauma dan tidak mau lagi bertugas di sini," ungkapnya dengan nada cemas.
Baca Juga: Gerakan Pangan Murah Digelar di Mahakam Ulu, Bantu Warga Perbatasan Akses Bahan Pokok
Desak Akses Darat di Wilayah Perbatasan
Kecelakaan ini kembali membuka luka lama terkait buruknya infrastruktur di tapal batas.
Dari enam desa di wilayah kerja Puskesmas Long Alango, hanya dua desa yang bisa diakses lewat jalur darat. Sisanya, nakes harus bertaruh nyawa membelah jeram sungai menggunakan perahu.
Agenda Integrasi Layanan Primer (ILP) yang seharusnya digelar setiap bulan pun sering kali terkendala anggaran dan risiko medan yang sangat ekstrem.
"Satu-satunya solusi adalah pembukaan jalur darat. Jalur sungai terlalu berbahaya dan sering mengancam nyawa petugas," tegas Elias.
Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi ini langsung kepada bupati Malinau dalam berbagai kesempatan kunjungan daerah.
Harapannya, pemerintah memberikan perhatian khusus pada infrastruktur jalan rintisan agar pelayanan kesehatan di beranda depan NKRI tidak lagi harus dibayar dengan taruhan nyawa.(*)
Editor : Dwi Puspitarini