KALTIMPOST.ID, KALTIM-Masyarakat di Kalimantan Timur dan seluruh penjuru Tanah Air diminta bersiap menghadapi cuaca ekstrem.
Laporan terbaru dari Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) memprediksi gelombang panas akan melanda kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan prakiraan musiman periode Maret–Mei 2026, suhu udara di sebagian besar wilayah maritim Asia Tenggara diproyeksikan berada di atas ambang batas normal.
ASMC mencatat adanya peluang sebesar 80–100 persen bahwa merkuri pada termometer akan meroket di atas rata-rata tahunan, khususnya di wilayah Indonesia dan Malaysia.
Kemarau Datang Lebih Awal
Baca Juga: Akhir Pelarian Jimmy Lie, Buronan Kakap Kasus Korupsi PTSL Diringkus di Malaysia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memperkuat peringatan tersebut. Fenomena La Niña lemah yang berakhir pada Februari 2026 telah membawa iklim global masuk ke fase netral, yang memicu datangnya musim kemarau lebih cepat dari biasanya.
Perubahan pola angin dari Monsun Asia (Angin Baratan) ke Monsun Australia (Angin Timuran) menjadi penanda transisi ini.
Sebanyak 16,3 persen wilayah Indonesia, termasuk sebagian Kalimantan dan Sulawesi, diprediksi mulai memasuki musim kering pada April 2026.
"Indeks ENSO saat ini berada pada kategori netral. Namun, ada peluang sekitar 50–60 persen munculnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini," tulis laporan BMKG.
Beban Listrik dan Geopolitik Dunia
Baca Juga: Kisah Tsabitah, Mahasiswi Asal Penajam PPU di Garis Depan Kemanusiaan Yordania-Palestina
Lonjakan suhu ini diprediksi tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan energi.
Cuaca panas ekstrem dipastikan bakal meningkatkan permintaan listrik secara drastis untuk penggunaan alat pendingin ruangan.
Celakanya, kebutuhan energi dalam negeri ini harus berhadapan dengan situasi geopolitik global yang karut-marut. Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok energi dunia.
Gangguan produksi di Timur Tengah, ditambah berhentinya fasilitas ekspor gas utama dari Qatar, memicu lonjakan harga Gas Alam Cair (LNG) di pasar internasional.
Dampak Ekonomi Regional
Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang 2026, Petani Kaltim Perlu Siapkan Benteng Sejak Dini
Negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Singapura kini mulai berebut pasokan gas di pasar spot dengan harga tinggi.
Kondisi ini diprediksi bakal memicu kenaikan tarif dasar listrik di tingkat regional pada kuartal kedua tahun ini.
Bagi Kalimantan Timur, sebagai daerah penghasil energi, situasi ini menjadi tantangan ganda: menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah panas ekstrem, sembari menghadapi fluktuasi harga komoditas global yang kian tak menentu.(*)
Editor : Almasrifah