Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kemarau Datang Lebih Awal karena El Nino, Tiga Daerah Kaltim Masuk Zona Merah

Ari Arief • Senin, 6 April 2026 | 12:26 WIB
Seorang warga tampak melintasi areal pertanian yang tanahnya pecah-pecah akibat kemarau.(ilustrasi generate AI/kp)
Seorang warga tampak melintasi areal pertanian yang tanahnya pecah-pecah akibat kemarau.(ilustrasi generate AI/kp)

KALTIMPOST.ID,KALTIM-Masyarakat Kaltim diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan tiba lebih cepat dibandingkan siklus normalnya.

Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi BMKG Samarinda, Wiwik Indah Sari Aziz, kepada media massa, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino menjadi pemicu utama bergesernya awal musim kering tahun ini.

Baca Juga: 10 Jurusan ITS Paling Ketat di SNBP 2026, Teknik Pertambangan Jadi yang Tersulit Ditembus

Dia mengatakan, jika biasanya kemarau baru menyapa Bumi Etam pada Juli, tahun ini diprediksi sudah mulai terasa sejak pertengahan Juni.

"Ada percepatan sekitar satu bulan dari biasanya. Hal ini disebabkan rendahnya curah hujan akibat minimnya pembentukan awan," jelas Wiwik, Senin (6/4). Ia menambahkan, durasi kemarau kali ini diperkirakan cukup panjang, membentang dari April hingga Desember 2026.

Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim langsung memetakan titik-titik rawan. Tiga kabupaten, yakni Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), dan Berau, kini dalam pengawasan ketat karena memiliki rekam jejak karhutla yang tinggi setiap tahunnya.

Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, menyebutkan beberapa lokasi spesifik yang menjadi atensi khusus antara lain kawasan Kaubun di Kutim, wilayah perbatasan Kukar-Kutim, serta sejumlah titik di Berau.

Baca Juga: Heboh Kabar Trump Dirawat di RS Jelang Paskah, Ini Klarifikasi Resmi Gedung Putih

"Laporan kebakaran di wilayah-wilayah tersebut hampir selalu muncul tiap tahun, sehingga menjadi prioritas penanganan kami," tegas Cahyo.

Hotspot Mulai Bermunculan

Hingga saat ini, BPBD mencatat telah terdeteksi sedikitnya 77 titik panas (hotspot) yang tersebar di Paser, Kutai Barat, Kukar, Kutim, Berau, hingga sebagian Bontang. Angka ini diprediksi akan terus merangkak naik seiring meningkatnya suhu udara.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kaltim telah menyiapkan sejumlah skenario, antara lain, pendistribusian bantuan mesin pompa air ke kantong-kantong pemukiman warga yang rawan. Berikutnya, koordinasi lintas sektoral sembari menunggu penerbitan SK Siaga Hidrometeorologi Kering, dan opsi modifikasi cuaca (TMC) jika kondisi kekeringan memasuki level ekstrem.

Imbauan Masyarakat

Meski hujan diperkirakan masih akan turun secara dinamis hingga pertengahan April, tren menuju kemarau panjang tetap menguat. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, lebih bijak dalam penggunaan air bersih, serta rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG.

Langkah antisipasi sejak dini diharapkan mampu meminimalisir dampak kerugian lingkungan maupun gangguan kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas warga Kaltim.(*)

----------

Editor : Thomas Priyandoko
#cuaca di kaltim #zona merah #kemarau #el nino