TCM Dorong Kemandirian Ekonomi lewat Pemberdayaan Pemuda dan Pola Kemitraan, Intip Keberhasilannya

Dwi Restu A • Dipublikasikan Senin, 20 April 2026 | 15:39 WIB
SUKSES: Kelompok binaan PT TCM di Kubar berhasil mengembangkan budidaya ayam petelur dan boiler yang rata-rata dikelola anak muda.
SUKSES: Kelompok binaan PT TCM di Kubar berhasil mengembangkan budidaya ayam petelur dan boiler yang rata-rata dikelola anak muda.
 
 
KALTIMPOST.ID, KUTAI BARAT–PT Trubaindo Coal Mining (TCM) mendorong pemberdayaan  generasi muda di sekitar wilayah operasional perusahaan, melalui pengembangan program peternakan ayam yang dikelola langsung kelompok pemuda desa. 
 
Inisiatif itu menjadi bagian dari upaya perusahaan membuka ruang usaha produktif, meningkatkan keterampilan, serta memperkuat peran anak muda dalam pengembangan ekonomi lokal.
 
Baca Juga: Triwulan I 2026, Polres PPU Ungkap 13 Kasus Narkoba dan Amankan 15 Tersangka
 
Salah satu kelompok binaan TCM adalah Kelompok Himpunan Pemuda Mandiri (HPM) IPU GREEN di Kampung Damai Seberang. Kelompok yang dibentuk pada 2024 itu beranggotakan tujuh pemuda dan pemudi setempat, yang mengembangkan usaha peternakan dengan mengelola 115 ekor ayam petelur dan 200 ekor ayam broiler.
 
Dari usaha ayam petelur, kelompok tersebug saat ini mampu memproduksi sekitar 1.440 butir telur per bulan. Tidak hanya fokus pada produksi, para anggota kelompok juga aktif memasarkan hasil usaha dengan cara yang dekat dengan keseharian generasi muda, seperti memanfaatkan media sosial dan media promosi visual.
 
Untuk pemasaran ayam broiler, mereka membangun jaringan penjualan ke rumah makan, serta menjangkau kebutuhan masyarakat di sekitar kampung maupun di luar kampung.
 
Sementara penjualan telur dilakukan melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMKa), pelaku usaha lokal, dan pemesanan masyarakat.
 
Baca Juga: Gestur Hangat di Tengah Duka, Gubernur Kaltim Kenang Jurnalis Rizaldy dengan Karangan Bunga
 
Selain peternakan, kelompok itu juga mengembangkan pertanian terpadu melalui budidaya berbagai komoditas, seperti tomat, terong, jagung, buncis, cabai, labu, dan sayuran hidroponik sebagai bentuk pemanfaatan potensi lokal, sekaligus sebagai upaya membangun kemandirian pangan.
 
“Pelibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam program pemberdayaan masyarakat. Kami melihat anak-anak muda memiliki semangat dan kemampuan berkembang jika mendapat ruang dan pendampingan yang tepat. Karena itu, program ini tidak hanya fokus pada hasil usaha, tetapi juga pada proses belajar, membangun jaringan pemasaran, dan kemandirian yang dibangun bersama,” ujar Jones Silas, Community Development Head TCM.
 
Baca Juga: RDP Memanas, DPRD Paser Beri Deadline 10 Hari ke BPN Soal Lahan Jembatan Seniur II
 
Ketua Kelompok HPM IPU GREEN Agustian mengatakan, kegiatan itu memberi pengalaman baru bagi para anggota dalam mengelola usaha bersama.
 
“Kami belajar mulai pemeliharaan, produksi, sampai pemasaran. Dengan memanfaatkan berbagai platform media, dan kerja sama dengan berbagai pihak, kami jadi lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha di kampung,” ungkap Agustian.
 
Sementara itu, di Kampung Mentika, TCM juga mendampingi Kelompok IFS Eso Elo Mandiri, kelompok berbasis integrated farming system yang telah berdiri sejak 2019. Kelompok itu mengembangkan pertanian, pembibitan tanaman buah, serta peternakan ayam petelur. Saat ini mengelola 300 ekor ayam petelur, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 5.760 butir telur per bulan. 
 
Baca Juga: Begini Respons Wali Kota Samarinda Andi Harun Setelah Diadukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Apakah Diperiksa?
 
Pada 2024, kelompok ini mulai mengembangkan budidaya ayam petelur dengan pola kemitraan dengan TCM dan Layung Farm, sebagai salah satu pilot project bertajuk “Pengembangan Ayam Petelur dengan Pola Kemitraan”.
 
BERHASIL: Pengelolaan yang baik dapat menghasilkan peningkatan mutu ayam petelur dan boiler.
BERHASIL: Pengelolaan yang baik dapat menghasilkan peningkatan mutu ayam petelur dan boiler.
 
 
Pola kemitraan itu memiliki potensi yang baik karena petani dapat lebih fokus pada pengelolaan usaha, tanpa menghadapi kendala pemasaran hasil panen maupun pengadaan pakan.
 
Kebutuhan tersebut didukung Layung Farm sebagai mitra, yang secara rutin setiap minggu mengambil hasil panen sekaligus mengantarkan pakan yang dibutuhkan.
 
Menurut Muso, ketua IFS Eso Elo Mandiri, program kemitraan itu sangat membantu kelompoknya dalam mengembangkan usaha, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan. 
 
Melalui skema tersebut, anggota kelompok dapat fokus pada pemeliharaan ternak, dengan pendampingan teknis dari Layung Farm dan TCM. Hasil panen diserap  Layung Farm sebagai distributor telur di Kutai Barat. (*)
Editor : Dwi Restu A
PT TCM ayam boiler Ayam petelur kubar ITM