KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kalimantan Timur mulai mendorong penerapan konsep pertanian berkelanjutan sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Konsep ini menegaskan bahwa pertanian tidak lagi hanya berfokus pada hasil produksi, tetapi juga harus memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Fahmi Himawan, mengatakan bahwa dari sisi ekonomi, peningkatan produktivitas diharapkan dapat berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
Baca Juga: Proyek Jalan Muara Muntai–Blusuh Tak Sekadar Aspal, Warga Ikut Dapat Penghasilan
“Kalau produktivitas meningkat, otomatis pendapatan petani juga meningkat,” ujarnya.
Dari sisi sosial, Fahmi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program peningkatan produksi pangan strategis.
Menurutnya, keberhasilan program tidak bisa dicapai secara sendiri-sendiri, melainkan harus melibatkan banyak pihak.
“Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, desa, akademisi, sampai petani harus terlibat. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk limbah pertanian dan peternakan. Limbah seperti kotoran ternak, menurutnya, dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi pertanian.
Selain itu, Fahmi mendorong pengurangan ketergantungan pada bahan kimia melalui pendekatan pertanian ramah lingkungan seperti LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture).
“Bagaimana kita meminimalkan bahan kimia dan memanfaatkan kearifan lokal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan pertanian yang kurang tepat dapat berdampak pada lingkungan, salah satunya emisi gas metana dari limbah yang tidak dimanfaatkan.
“Kalau dibiarkan, itu bisa berdampak ke lingkungan. Jadi harus dikelola,” tambahnya.
Fahmi berharap konsep pertanian berkelanjutan ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan agar dapat direplikasi dan dirasakan manfaatnya oleh petani.
“Ini harus ada praktiknya, bukan hanya teori. Supaya bisa direplikasi dan benar-benar dirasakan manfaatnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi