KALTIMPOST.ID-Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau memastikan bantuan benih jagung untuk petani tetap tersedia pada tahun ini.
Bantuan tersebut berasal dari APBN dan akan difokuskan pada pengembangan jagung hibrida di sejumlah wilayah sentra pertanian.
Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian DTPHP Berau Wono Nugroho mengatakan, bantuan yang diberikan tahun ini berupa benih jagung hibrida yang dinilai memiliki potensi hasil lebih tinggi dibandingkan benih komposit.
“Untuk tahun ini memang belum ada bantuan benih komposit. Tetapi ada bantuan benih jagung hibrida dari APBN. Saat ini belum masuk ke Berau, namun estimasi distribusi ke daerah kita pada Mei ini,” ujarnya, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, total lahan yang menjadi sasaran bantuan mencapai sekitar 1.569 hektare dan tersebar di lebih dari 40 kampung di Kabupaten Berau.
Penyaluran bantuan nantinya akan diberikan kepada kelompok tani berdasarkan usulan yang sebelumnya telah diajukan kepada pemerintah daerah.
Menurut Wono, penggunaan benih jagung hibrida diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian jagung di Berau karena memiliki keunggulan dari sisi hasil panen.
“Keunggulan jagung hibrida memang pada potensi hasilnya yang lebih tinggi sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani di Berau,” katanya.
Meski demikian, DTPHP Berau juga mencatat sejumlah tantangan yang masih dihadapi petani jagung di lapangan. Salah satunya adalah menurunnya luasan tanam akibat alih fungsi lahan di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi produksi jagung daerah apabila tidak diimbangi dengan pembukaan lahan pertanian baru.
“Memang saat kunjungan lapangan kami melihat ada penurunan luasan tanam. Salah satu penyebabnya karena alih fungsi lahan. Namun di beberapa lokasi lain juga ada pembukaan lahan baru,” jelasnya.
Selain persoalan lahan, kebutuhan sarana pascapanen juga masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Petani jagung di Berau disebut masih membutuhkan alat pengering atau dryer untuk menjaga kualitas hasil panen.
Menurut Wono, keberadaan alat pengering sangat penting agar hasil jagung petani tetap memiliki kualitas baik dan nilai jual yang lebih tinggi.
“Petani masih membutuhkan alat pascapanen seperti dryer atau pengering jagung. Ini penting untuk meningkatkan kualitas hasil,” ungkapnya.
Untuk mendukung peningkatan produksi, DTPHP Berau terus melakukan pendampingan melalui petugas penyuluh lapangan (PPL) yang tersebar di berbagai wilayah binaan.
Pendampingan tersebut dilakukan mulai dari tahap penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga proses pascapanen agar petani dapat mengelola usaha tani secara optimal.
Dengan adanya bantuan benih hibrida dan pendampingan berkelanjutan, pemerintah daerah berharap produksi jagung di Kabupaten Berau dapat meningkat dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Namun demikian, keberhasilan produksi tetap dipengaruhi sejumlah faktor lain seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan kondisi cuaca.
“Harapannya tentu produksi jagung di Berau bisa meningkat. Selama tidak ada serangan hama penyakit dan tidak terjadi kekeringan, semoga hasilnya optimal,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.