KALTIMPOST.ID, SEKADAU – Tanah Borneo bersiap menjadi saksi bisu sebuah lompatan besar peradaban. Bukan melalui eksploitasi sumber daya alam, melainkan lewat kekuatan aksara dan intelektualitas.
Untuk kali pertama dalam sejarah global, sebuah etnis secara mandiri menginisiasi gerakan literasi berskala internasional.
Bertajuk “Kongres Internasional I Literasi Dayak & The 1st Dayak Book Fair 2026”, perhelatan ini dijadwalkan berlangsung di Sekadau, Kalimantan Barat, pada 15–16 Mei 2026.
Acara ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah pernyataan sikap bahwa masyarakat Dayak telah melampaui batas definisi tradisional tentang literasi.
Siaran pers yang diterima media ini Senin (4/5/2026) menyebutkan, ketua panitia menekankan bahwa momentum ini merupakan penegasan posisi Dayak dalam peta peradaban dunia.
Baca Juga: Viral Pocong Berkeliaran di Penajam: Polisi Turun Tangan Minta Warga Tetap Tenang
Mengadopsi semangat Perjanjian Davos (World Economic Forum), literasi di sini dimaknai secara holistik: kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk kedaulatan ekonomi serta sosial.
"Ini adalah tonggak sejarah. Dunia akan melihat bagaimana tradisi lisan, pengetahuan lokal, dan teknologi modern berpadu menjadi kekuatan baru. Kita bicara soal literasi finansial, digital, hingga publikasi ilmiah," tulis rilis resmi panitia yang diterima media ini.
Magnet Intelektual di "Rumah Panjang" Modern
Puncak acara pada 16 Mei 2026 akan menghadirkan tokoh-tokoh kunci. Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si., dijadwalkan menjadi keynote speaker dengan visi memajukan Dayak melalui gerakan literasi yang terstruktur.
Diskusi akan terbagi dalam tiga panel besar yang mempertemukan para pemikir lintas negara (Indonesia-Malaysia).
Beberapa poin krusial yang akan dibedah antara lain role model regional dengan narasumber Jaya Ramba yang akan memaparkan bagaimana literasi Dayak di Malaysia dapat menjadi inspirasi bagi saudara serumpun di Indonesia.
Rumah Buku Dayak melalui Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., akan memperkenalkan konsep "Rumah Panjang" masa kini yang berbasis pada ilmu pengetahuan.
Ekonomi dan Digital melalui pakar seperti Munaldus, M.A., dan Alexander Mering akan mengupas tuntas digitalisasi serta monetisasi literasi sebagai motor kemandirian ekonomi.
Book Fair: Karya Asli, Bukan Replika
Salah satu keunikan yang menjadi sorotan adalah The 1st Dayak Book Fair. Berbeda dengan pameran buku pada umumnya, seluruh literatur yang dipamerkan adalah murni karya penulis Dayak lintas generasi.
Baca Juga: Tak Hanya Guru BK, Organisasi Siswa Disebut jadi Solusi Isu Sosial
Agenda ini juga akan menjadi saksi peluncuran Opus Magnum bertajuk "Iban Dream" karya Munaldus, sebuah karya ambisius yang berisi satu cerpen untuk setiap hari dalam setahun.
Selain itu, aspek seni tidak ditinggalkan dengan adanya lomba baca Jandih (sastra lisan Dayak) yang menjaga akar tradisi tetap hidup di tengah arus modernitas.
Dari Borneo untuk Dunia
Kehadiran akademisi seperti Prof. Dr. Tiwi Etika dan Pitalis Mawardi, Ph.D., kian mempertegas bahwa kongres ini adalah "jalan menuju profesor" bagi para intelektual Dayak.
Ini adalah gerakan strategis untuk memastikan pengetahuan lokal tidak hanya berakhir di ruang tamu, tapi menembus jurnal ilmiah internasional.
Melalui kongres ini, masyarakat Dayak ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia: literasi adalah napas peradaban.
Dari Sekadau, Dayak tidak lagi hanya menjadi objek penelitian, melainkan subjek yang menuliskan takdir dan sejarahnya sendiri.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Kongres Internasional I Literasi Dayak 2026. Kontak: Nenang Sabela (+62 896-8312-8219), Sekadau, Kalimantan Barat. (*)
Editor : Almasrifah