KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Praktik penyembelihan hewan kurban di Kalimantan Timur dinilai masih banyak yang belum memenuhi prinsip kesejahteraan hewan. Dampaknya bukan hanya pada hewan, tetapi juga kualitas daging yang dikonsumsi masyarakat.
Pengamat Peternakan Universitas Mulawarman Ari Wibowo mengungkapkan masih ditemukan proses penyembelihan yang menyebabkan hewan mengalami stres berkepanjangan sebelum mati.
“Ada beberapa masjid kami ambil sampel, total 115 sampel. Itu sapi ada yang mati sampai 12 menit,” katanya.
Padahal, menurut Ari, standar waktu kematian hewan setelah disembelih seharusnya hanya sekitar dua hingga empat menit. Dia menjelaskan kondisi stres pada sapi akan memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan.
“Hasil daging yang dipotong dan sapi yang menderita itu daging jadi keras kayak sandal,” ujarnya.
Selain tekstur menjadi keras, Ari menyebut daging dari hewan yang stres juga berwarna lebih gelap dan lebih cepat ditumbuhi bakteri. “Jadi dark cutting beef, warnanya gelap, pH-nya tinggi, bakteri cepat tumbuh,” katanya.
Dia menjelaskan salah satu penyebab stres adalah tata letak tempat pemotongan yang masih tidak sesuai standar. Banyak hewan yang masih bisa melihat proses penyembelihan hewan lain.
Baca Juga: Aktivis Nilai PROPER Merah Perusahaan di Kutim Perkuat Pentingnya Keterbukaan Dokumen Lingkungan
Ari juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpan daging segar ke freezer sesaat setelah pemotongan. Menurutnya, daging perlu didinginkan terlebih dahulu agar proses alami perubahan otot menjadi daging berlangsung sempurna sehingga teksturnya lebih empuk saat dimasak.
“Kalau langsung dimasukkan ke tempat beku, nanti pas dimasak tetap keras,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fadli Sufiani mengatakan pihaknya rutin memberikan edukasi kepada pengurus masjid dan juru sembelih halal. “Kami terus melakukan sosialisasi kepada pengurus-pengurus masjid kemudian juga pelatihan-pelatihan kepada juru sembelih halal,” katanya.
Dia juga mengingatkan agar proses pemotongan dilakukan secara higienis dan tidak meletakkan daging langsung di lantai. “Jangan sampai daging-daging yang dipotong itu ada yang di lantai,” tuturnya. (*)
Editor : Duito Susanto