KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Posisi Kota Samarinda sebagai salah satu kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin strategis. Namun di balik peluang besar yang terbuka, ancaman urbanisasi hingga ketahanan pangan menjadi persoalan yang harus diantisipasi sejak dini.
Hal itu mengemuka dalam pembahasan konsep Tricity yang melibatkan IKN, Samarinda Raya dan Balikpapan Raya bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Japan International Cooperation Agency (JICA) di Jakarta.
Baca Juga: Korban Lubang Tambang di Samarinda Bertambah, Legislatif Soroti Lemahnya Pengawasan
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, kerja sama dengan JICA telah berjalan sejak tahun lalu. Dalam pembahasan tersebut, Samarinda menilai konsep Tricity tidak cukup hanya melibatkan Samarinda, Balikpapan dan IKN, tetapi juga perlu memasukkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Penajam Paser Utara (PPU), serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Menurutnya, Kukar dan PPU memiliki peran penting sebagai kawasan penyangga kebutuhan pangan bagi wilayah penyangga IKN yang terus berkembang.
"Kami mengusulkan agar konsepnya tidak hanya Tricity. Kukar dan PPU juga harus dilibatkan karena berbicara soal ketahanan pangan, wilayah yang memiliki lahan luas berada di sana. Jangan hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat ke depan," ujarnya, Senin (8/6).
Baca Juga: Mau Kuliah Gratis dan Dapat Uang Saku? Cek Info Beasiswa Sobat Bumi PHI Angkatan III
Marnabas menjelaskan, Samarinda telah memulai sejumlah langkah strategis untuk mendukung pengembangan kawasan penyangga IKN. Di antaranya pengendalian banjir, peningkatan infrastruktur kota, pengembangan kawasan Teras Samarinda, hingga rencana pemindahan aktivitas Pelabuhan Yos Sudarso ke kawasan Pelabuhan Multipurpose Palaran yang terintegrasi dengan Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran.
Selain itu, Pemerintah Kota Samarinda juga menyiapkan kawasan Palaran sebagai pusat industri dan perdagangan baru yang diharapkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di masa mendatang.
Namun, ia mengingatkan perkembangan IKN juga berpotensi memicu lonjakan urbanisasi yang dapat menjadi beban bagi daerah penyangga jika tidak diantisipasi dengan baik. "Kalau urbanisasi tidak dikelola dengan baik, ini bisa menjadi persoalan. Apalagi kalau yang datang tidak memiliki keterampilan memadai. Jangan sampai justru menjadi beban bagi Samarinda," katanya.
Menurut Marnabas, ancaman yang lebih besar justru berasal dari sektor pangan. Saat ini kebutuhan beras, sayur-mayur dan sejumlah bahan pokok di Samarinda masih bergantung pada pasokan luar daerah.
Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan pemerintah, kemampuan produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 35 persen kebutuhan masyarakat. Sisanya masih didatangkan dari luar Kalimantan, terutama Pulau Jawa dan Sulawesi.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius mengingat jumlah penduduk di kawasan Tricity diperkirakan terus meningkat. Saat ini jumlah penduduk yang dilayani di kawasan Samarinda, Balikpapan, Kukar, PPU dan IKN mencapai sekitar 2,6 juta jiwa dan diprediksi meningkat menjadi 3,5 juta jiwa pada 2030.
Karena itu, Samarinda mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mempercepat program pencetakan sawah dan pengembangan kawasan pertanian terpadu di Kalimantan Timur.
"Kami mengusulkan pencetakan sawah dan kawasan pangan sekitar 100 ribu hektare. Tidak hanya sawah, tetapi juga peternakan, hortikultura dan komoditas pangan lainnya. Ini penting untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mengendalikan inflasi di masa depan," tegasnya.
Selain ketahanan pangan, pemerintah juga mendorong penguatan sektor UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif agar masyarakat lokal dapat menikmati manfaat langsung dari kehadiran IKN.
Marnabas optimistis berbagai pembangunan yang dilakukan saat ini akan membuat Samarinda menjadi salah satu tujuan utama masyarakat dan pelaku usaha ketika aktivitas pemerintahan di IKN berjalan penuh.
"Kami sudah menyiapkan banyak hal. Teras Samarinda, kawasan wisata, ruang publik hingga infrastruktur lainnya. Harapannya ketika IKN beroperasi penuh, Samarinda menjadi kota yang paling siap menerima dampak positifnya," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki