Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tak Ingin Bergantung Gratispol, Oran Tua Siswa Tetap Siapkan Dana untuk Seragam

Nasya Rahaya • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:20 WIB
BANYAK CATATAN: Distribusi seragam Gratispol belum sepenuhnya berjalan mulus. Beberapa siswa disebut menerima ukuran seragam dan sepatu tidak sesuai dengan data. Bahkan ada yang tidak dapat.
BANYAK CATATAN: Distribusi seragam Gratispol belum sepenuhnya berjalan mulus. Beberapa siswa disebut menerima ukuran seragam dan sepatu tidak sesuai dengan data. Bahkan ada yang tidak dapat.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Program Gratispol yang kembali dilanjutkan Pemprov Kaltim untuk siswa baru tahun ajaran 2026/2027 tak disambut positif banyak pihak. Sebagian orang tua memilih tidak terlalu bergantung pada program tersebut dan tetap menyiapkan biaya sendiri untuk kebutuhan sekolah anak.

Nurhasanah, warga Berau, menjadi salah satunya. Tahun ini anak bungsunya akan memasuki jenjang SMA. Sejak jauh hari, ia sudah menyiapkan tabungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah, mulai seragam hingga perlengkapan belajar.

Sekolah negeri yang lokasinya paling dekat dengan rumah menjadi pilihan keluarga. Untuk seragam utama putih abu-abu, Nurhasanah tidak terlalu khawatir. Sebagai seorang penjahit, ia berencana menjahit sendiri seragam anaknya menggunakan bahan yang menurutnya lebih nyaman dan tahan digunakan hingga lulus sekolah.

Baca Juga: Sekolah di Kaltim Dilarang Paksa Siswa Beli Seragam, Ini Aturan Terbarunya

“Kalau seragam putih abu-abu, pramuka, rok untuk baju batik saya bisa jahit sendiri. Saya pilih kain yang bagus supaya awet dipakai sampai lulus SMA,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap harus menyiapkan anggaran tambahan untuk membeli seragam batik dan olahraga yang umumnya hanya tersedia melalui sekolah.

Menurut Nurhasanah, dua jenis seragam tersebut belum termasuk dalam bantuan seragam Gratispol yang selama ini diterima siswa. “Setahu saya Gratispol cuma menyediakan seragam putih abu-abu. Untuk batik dan olahraga masih harus beli sendiri. Harusnya kalau memang mau membantu, jangan setengah-setengah. Batik dan olahraga juga disediakan atau setidaknya disubsidi,” katanya.

Ia menilai kebutuhan seragam sekolah tidak hanya terbatas pada satu jenis pakaian. Siswa tetap membutuhkan seragam lain untuk menunjang aktivitas belajar selama satu pekan. “Masa anak pakai seragam putih abu-abu terus setiap hari. Kan tetap perlu batik, olahraga dan pramuka,” tambahnya.

Baca Juga: Rita Widyasari Ungkap Sosok Pertama yang Akan Ditemui di Tenggarong, Bukan Bupati Kukar

Meski anaknya berpeluang menjadi penerima bantuan seragam Gratispol tahun ini, Nurhasanah mengaku tidak menaruh harapan terlalu besar. Pengalamannya melihat pelaksanaan program pada tahun sebelumnya membuatnya memilih tetap mempersiapkan kebutuhan sekolah secara mandiri.

Ia mengaku memperoleh informasi dari sejumlah guru mengenai distribusi seragam Gratispol yang belum sepenuhnya berjalan mulus. Beberapa siswa disebut menerima ukuran seragam dan sepatu yang tidak sesuai dengan data yang telah dikumpulkan sekolah. Bahkan ada yang tidak dapat.

“Saya dapat informasi ada yang bajunya kebesaran, sepatunya juga tidak pas, padahal sebelumnya sudah didata. Pembagiannya juga baru diterima setelah anak sekolah lebih dari tiga bulan,” tuturnya. Apalagi bagi siswa yang tinggal di daerah yang jauh dari ibu kota provinsi. Nurhasanah menilai lamanya distribusi ke wilayah-wilayah luar masih jadi kendala.

“Saya tinggal di kecamatan. Tahun lalu saja realisasi seragamnya cukup lama. Kasihan kalau anak saya nanti harus menunggu terus sementara teman-temannya sudah pakai seragam baru,” katanya. Karena itu, ia memilih menyiapkan sendiri kebutuhan sekolah anaknya daripada menunggu bantuan yang belum tentu segera diterima.

“Daripada menunggu lama, lebih baik saya siapkan sendiri. Yang penting anak bisa sekolah dengan nyaman,” ujarnya. Untuk tahun ajaran baru ini, Nurhasanah memperkirakan anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 2 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli seragam batik, seragam olahraga, pramuka, buku pelajaran, serta perlengkapan sekolah lainnya.

Sebelumnya, dua anaknya yang lain sempat menggunakan seragam bekas pakai atau lungsuran dari tetangga yang telah lulus sekolah. Menurut dia, sekolah saat itu tidak mempermasalahkan penggunaan seragam bekas selama masih layak pakai. “Kakaknya si bungsu ini dulu ada yang pakai seragam lungsuran dari tetangga. Sekolah juga tidak mewajibkan harus beli baru atau beli di sekolah,” katanya.

Nurhasanah berharap program bantuan seragam sekolah ke depan dapat mencakup lebih banyak kebutuhan siswa. Jika belum memungkinkan, ia berharap pemerintah dapat memberikan subsidi tambahan untuk seragam batik dan olahraga yang masih harus ditanggung orang tua.

“Kalau bisa mencakup semua seragam atau setidaknya ada subsidi. Sekarang kondisi ekonomi sedang sulit, harga-harga juga mahal. Jadi bantuan seperti itu pasti sangat membantu orang tua,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Seragam sekolah Kaltim #Orang tua siswa Kaltim #Disdikbud Kaltim #gratispol kaltim #bantuan pendidikan Kaltim