Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sering Viral di Medsos, Kemunculan Orangutan di Permukiman Jadi Alarm Ancaman Habitat

Jufriadi • Selasa, 16 Juni 2026 | 12:10 WIB
Proses evakuasi seekor orangutan yang sebelumnya terekam memakan sisa makanan ditumpukan sampah di pinggir jalan poros Kutai Timur. (IST)

 
Proses evakuasi seekor orangutan yang sebelumnya terekam memakan sisa makanan ditumpukan sampah di pinggir jalan poros Kutai Timur. (IST)  

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Video orangutan berkeliaran di kawasan tambang, memanjat tiang listrik, hingga mencari makan di tumpukan sampah semakin sering muncul di media sosial. Fenomena yang berulang itu dinilai bukan sekadar tontonan. Tapi menjadi alarm bahwa ruang hidup orangutan di Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Timur (Kutim), semakin tertekan.

Koordinator Jaringan Penulis Alam (JPA) Awaluddin Jalil menilai penanganan konflik orangutan selama ini masih didominasi langkah reaktif setelah video atau dokumentasi masyarakat telanjur viral di media sosial. "Selalu menunggu viral di media sosial tentu bukanlah langkah solutif," katanya.

Baca Juga: Perbaikan Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan Lampaui Target, Kapan Selesai?

Menurut Awaluddin, kemunculan orangutan di area aktivitas manusia menunjukkan perlunya upaya perlindungan habitat yang lebih serius daripada sekadar melakukan evakuasi saat konflik terjadi.

"Kalau orangutan sudah sering muncul di tambang, kebun, jalan, bahkan permukiman dan menjadi konten viral, itu seharusnya kita baca sebagai sinyal bahwa ada persoalan pada habitatnya. Yang harus diselesaikan bukan hanya satwanya dipindahkan, tetapi bagaimana ruang hidupnya tetap terjaga," ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Targetkan 1.000 Sambungan Rumah Baru, Desa Api-api Masih Diupayakan 

Ia mengatakan, data JPA menunjukkan sepanjang 2024 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengevakuasi 31 individu orangutan. Pada 2025 jumlah tersebut meningkat tajam, bahkan sekitar dua bulan pertama tahun itu sudah mencapai 37 individu dan terus bertambah hingga akhir tahun.

Di tengah meningkatnya konflik tersebut, Awaluddin mengapresiasi lahirnya Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan yang melibatkan pemerintah, akademisi, lembaga konservasi, dan perusahaan pemegang konsesi di Kutai Timur.

"Kami mengapresiasi terbentuknya Forum Konservasi Orangutan Terpadu karena pendekatan kolaboratif seperti ini memang sangat dibutuhkan. Upaya konservasi tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu pihak, tetapi memerlukan komitmen bersama untuk menjaga habitat dan mengurangi konflik," katanya.

Baca Juga: Kalahkan OSNBC di Final, Bluefin Juara KBL Kategori Umum

Menurut dia, langkah forum yang mengusulkan peta indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas bentang alam, sehingga orangutan tetap memiliki jalur jelajah yang memadai.

"Yang paling penting adalah memastikan habitatnya tetap terkoneksi. Kalau ruang hidupnya terus terfragmentasi, maka potensi interaksi dengan manusia akan semakin tinggi dan kasus-kasus yang viral itu akan terus berulang," tegasnya.

Lanskap Keraitan yang memiliki luas sekitar 560 ribu hektare merupakan salah satu habitat utama Orangutan Morio di Kalimantan Timur. Berdasarkan data BKSDA Kaltim, hampir 70 persen konflik manusia dan orangutan di provinsi ini terjadi di kawasan tersebut.

Melalui usulan Areal Preservasi Habitat Orangutan seluas 101.005,24 hektare, para pihak berharap konektivitas habitat dapat dipertahankan sehingga konflik bisa ditekan sejak awal, tanpa harus menunggu munculnya video-video viral di media sosial. (*)

Editor : Sukri Sikki
#orangutan #kutai timur #media sosial #BKSDA Kaltim