KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di saat Teknik Alat Berat masih menjadi jurusan favorit calon siswa SMK, kebutuhan industri justru tidak hanya bertumpu pada sektor tersebut. Beberapa kompetensi keahlian yang kurang mendapat sorotan ternyata memiliki peluang kerja yang besar dan terus dibutuhkan dunia usaha.
Hal itu diungkapkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 2 Samarinda Nurmah Mudatin Nikmah saat menjelaskan tren kebutuhan tenaga kerja terhadap lulusan sekolah vokasi. Salah satu yang paling menonjol adalah Teknik Pendinginan dan Tata Udara (TPTU).
Jurusan yang berkaitan dengan instalasi dan perawatan sistem pendingin itu dinilai memiliki pasar kerja yang luas karena dibutuhkan hampir di semua sektor. “Itu semua instansi butuh. Semua sekarang kantor, bahkan masjid dan gereja itu kan semua menggunakan AC,” ujarnya.
Baca Juga: Alat Berat Masih Jadi Jurusan Favorit di Samarinda, Tapi SMKN 2 Ingatkan Risiko Dunia Kerja ke Depan
Menurut Nurmah, kebutuhan industri terhadap lulusan TPTU sebenarnya cukup tinggi. Bahkan berbagai pihak kerap meminta sekolah mengirimkan siswa maupun lulusan untuk bekerja. Namun, kapasitas sekolah belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut.
“Banyak peminat, industri tuh pengin kami mengirim anak itu banyak. Tapi kami enggak bisa penuhi karena kondisi SDM (pengajar) kurang,” katanya. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga pengajar sesuai kompetensi serta ruang belajar. Akibatnya, sekolah belum bisa menambah kapasitas secara signifikan meski peluang kerja yang tersedia cukup besar.
Selain TPTU, sejumlah kompetensi keahlian lain juga dinilai masih sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan. Mulai dari teknik listrik, teknik konstruksi perumahan, pengelasan, desain pemodelan dan informasi bangunan (DPIB), hingga geomatika. “Semua jurusan itu kan saling mendukung itu. Saling melengkapi di dunia kerja,” ujar Nurmah.
Dia mencontohkan pembangunan sebuah bangunan membutuhkan banyak bidang keahlian sekaligus. Tidak hanya konstruksi, tetapi juga instalasi listrik, pengelasan hingga sistem pendingin. Oleh sebab itu, seluruh jurusan yang ada di SMKN 2 Samarinda diakuinya masih memiliki ruang di dunia kerja.
Dari sisi lulusan, sekolah mencatat sekitar 30 persen melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara sekitar 30 persen lainnya bekerja sesuai bidang keahlian yang dipelajari di sekolah. “Kalau yang langsung kerja memang rata-rata dari magang. Ternyata kinerjanya bagus, nah itu ditarik,” tuturnya.
Jalur magang memang menjadi pintu masuk utama bagi banyak lulusan SMK untuk memasuki dunia kerja. Jika menunjukkan kinerja baik selama magang, mereka berpeluang langsung direkrut. Nurmah menilai tidak ada satu jurusan yang paling unggul dibanding lainnya.
Yang membedakan hanyalah kemampuan siswa dalam memanfaatkan kompetensi yang dimiliki. Sebab, kebutuhan industri saat ini tidak hanya mencari tenaga kerja untuk sektor tambang, tetapi juga berbagai bidang teknis lain yang menopang pembangunan dan aktivitas sehari-hari. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo