KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Membuka jurusan baru bukan perkara mudah. Apalagi jika jurusan tersebut belum pernah ada sebelumnya di Kaltim. Tantangan itulah yang dihadapi SMK 19 Samarinda saat merintis Konsentrasi Keahlian Produksi Film, Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman, Bidang Keahlian Seni dan Ekonomi Kreatif.
Saat pertama dibuka pada 2025 lalu, jurusan ini hanya diisi tujuh siswa. Namun setahun berjalan, jumlah peminat mulai menunjukkan peningkatan. Pada penerimaan siswa baru tahun ini, SMK 19 Samarinda menerima 36 siswa untuk jurusan tersebut.
Kepala Konsentrasi Keahlian Produksi Film SMK 19 Samarinda Muchamad Syahroni mengatakan, jurusan itu lahir dari keinginan menghadirkan wadah bagi pelajar yang memiliki minat di bidang perfilman dan produksi konten kreatif.
“Di Samarinda belum ada sekolah yang mewadahi anak-anak yang suka bikin konten, suka mengolah visual, hobi merekam atau tertarik dunia film. Akhirnya kami coba merintis,” ujarnya.
Baca Juga: Tak Ikut Arus Jurusan Teknik, Banyak Orang Tua Justru Dorong Anak Masuk Multimedia
Pria yang akrab disapa Roni itu menjelaskan, jurusan Produksi Film yang dibuka SMK 19 hingga saat ini masih menjadi satu-satunya di Kaltim. Menurut dia, proses perintisan berlangsung cukup panjang. Mulai dari pengajuan izin hingga memperkenalkan jurusan kepada masyarakat.
Terlebih lokasi sekolah yang berada di kawasan Palaran membuat sosialisasi harus dilakukan lebih masif dibanding sekolah-sekolah yang berada di pusat kota. “Kalau sekolah di tengah kota mungkin lebih mudah. Kami di Palaran, jadi memang harus ekstra mengenalkan jurusan ini ke masyarakat,” katanya.
Selain faktor lokasi, nama jurusan yang masih asing di telinga masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. “Kalau akuntansi, otomotif atau DKV kan orang sudah tahu. Kalau broadcasting dan perfilman masih banyak yang bertanya itu jurusan apa,” ucapnya.
Meski demikian, Roni mengaku optimistis. Apalagi tren industri kreatif dan konten digital terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, banyak pelajar yang sebenarnya memiliki minat di bidang videografi maupun produksi konten, tetapi belum mengetahui ada jalur pendidikan formal yang bisa ditempuh.
Baca Juga: Masuk SMK Ingin Kerja? Lulusan Justru Banyak yang Pilih Kuliah
“Sekarang mulai ada yang datang memang karena tertarik dunia film. Ada yang sebelumnya ikut teater, ada yang memang suka bikin video,” katanya.
Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya belajar teori. Pada kelas X mereka diperkenalkan dasar-dasar produksi film. Sedangkan saat naik ke kelas XI dan XII, materi akan lebih spesifik mulai dari penulisan skenario, penyutradaraan, tata cahaya, fotografi, hingga editing.
Sebagai tugas akhir nantinya, siswa diwajibkan memproduksi film yang nantinya diputar melalui kegiatan screening. “Target akhirnya memang siswa menghasilkan karya film sendiri,” ujarnya. Roni yang juga aktif sebagai praktisi perfilman lokal menilai Kaltim memiliki peluang untuk mengembangkan industri film berbasis budaya daerah.
Ia mencontohkan sejumlah daerah seperti Batak dan Makassar yang mulai dikenal melalui film-film lokal yang sukses menembus pasar nasional. “Kaltim juga punya potensi. Kita punya banyak budaya dan cerita yang bisa diangkat. Tinggal bagaimana menyiapkan SDM-nya,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo