KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kekhawatiran akan dampak perlambatan kunjungan wisata pascapandemi maupun imbas efisiensi pemerintah ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Meski jumlah pengunjung mengalami penurunan pada 2025, nilai belanja wisatawan di destinasi justru menunjukkan tren positif.
Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Samarinda Saddam Husein mengungkapkan, sejak semester kedua 2024, pelaku wisata sudah banyak membicarakan potensi stagnasi akibat dampak lanjutan pandemi Covid-19.
“Ternyata di 2025 memang ada penurunan. Tapi saya bisa bilang angkanya cukup masih bagus, fair. Enggak seperti yang kita bayangin, kayak bakal enggak ada banget orang yang datang. Ternyata tetap oke,” ujarnya.
Menurut dia, pola kunjungan wisata kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya satu rombongan besar datang bersamaan, kini kunjungan lebih banyak dilakukan dalam kelompok yang lebih kecil. “Misalnya momen kenaikan kelas, itu datang satu sekolah, mereka parsial. Kelas 1A sendiri, kelas 1B sendiri,” jelasnya.
Namun, perubahan pola tersebut tidak selalu berdampak buruk terhadap pendapatan destinasi wisata. “Yang menarik, jumlah kunjungannya turun sedikit, tapi jumlah spending di destinasinya banyak, jajannya lebih banyak,” ungkap pengelola Taman Salma Shofa tersebut.
Kondisi itu menunjukkan pengunjung bersedia mengeluarkan uang lebih banyak selama berada di lokasi wisata. Menurutnya, hal tersebut menjadi indikator bahwa destinasi mulai memiliki nilai tambah yang dianggap menarik oleh wisatawan. “Itu kan berarti di destinasi punya pos-pos baru yang punya value, sampai pelanggan mau ngeluarin uang lebih,” bebernya.
Baca Juga: Syarat dan Jadwal Verifikasi Validasi SPMB 2026 Balikpapan, Dibuka hingga 1 Juli
Karena itu, Saddam menilai kondisi industri wisata saat ini masih relatif stabil. Penurunan jumlah pengunjung belum serta-merta berbanding lurus dengan penurunan perputaran ekonomi di destinasi wisata. (*)
Editor : Dwi Restu A