KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tidak semua anak berusia 5 tahun 6 bulan otomatis dapat masuk sekolah dasar (SD). Ketentuan usia minimal tersebut hanya berlaku bagi anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa serta dinyatakan siap secara psikologis melalui rekomendasi psikolog.
Penilaian itu pun jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat kemampuan membaca atau menghitung. Perbedaan enam bulan pada usia dini membawa perubahan perkembangan yang sangat besar.
Dalam rentang waktu tersebut, anak umumnya mengalami kemajuan pada kemampuan bahasa, konsentrasi, koordinasi motorik halus, pengendalian emosi, kemampuan mengikuti aturan hingga kemandirian sehari-hari.
Karena itulah pemerintah memberikan kesempatan bagi anak usia minimal 5 tahun 6 bulan untuk masuk SD hanya apabila memiliki kecerdasan atau bakat istimewa disertai kesiapan psikis yang dibuktikan melalui rekomendasi psikolog.
Baca Juga: Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tak Naik hingga September 2026
“Kebijakan ini menegaskan bahwa yang dinilai bukan sekadar umur, tetapi kematangan perkembangan anak secara menyeluruh," jelas psikolog klinis Biro Psikologi Matavhati, Yulia Wahyu Ningrum.
Dia mengatakan, masih banyak orang tua yang datang dengan keyakinan anaknya pasti lolos asesmen hanya karena sudah lancar membaca. Padahal, tes kesiapan masuk SD atau tes kematangan psikologis menilai berbagai aspek perkembangan yang jauh lebih luas dibanding kemampuan akademik.
"Yang kami lihat bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kesiapan emosional, kemampuan berkonsentrasi, daya tahan belajar, kemampuan mengikuti aturan, kemandirian, kontrol impuls, serta kemampuan bersosialisasi," ungkapnya.
Dia mencontohkan, ada anak dengan IQ tinggi tetapi masih mudah menangis ketika ditegur, sulit menunggu giliran, atau belum mampu berpisah dengan orang tua.
Baca Juga: Masih Tersisa 86 Kursi, SMK 2 Bontang Penuhi Kuota Lewat Offline
Sebaliknya, terdapat anak dengan kemampuan intelektual rata-rata, namun memiliki kematangan emosi yang baik sehingga lebih siap menghadapi kehidupan di sekolah.
"Kesiapan sekolah adalah perpaduan antara kemampuan berpikir, kematangan emosi, dan kesiapan sosial. Ketiganya harus berkembang secara seimbang," lanjut dia.
Dalam proses asesmen, psikolog juga tidak hanya mengandalkan hasil satu jenis tes. Observasi perilaku anak menjadi bagian penting sebelum mengeluarkan rekomendasi.
Beberapa aspek yang diperiksa meliputi kemampuan intelektual, memahami instruksi, konsentrasi, menyelesaikan tugas, kesiapan bahasa, koordinasi motorik halus, kontrol emosi, kemampuan bersosialisasi, tingkat kemandirian, hingga motivasi belajar.
"Kadang justru dari observasi sederhana terlihat apakah anak siap atau belum. Misalnya bagaimana dia masuk ke ruang pemeriksaan, berinteraksi dengan orang baru, menyelesaikan permainan, atau menghadapi kegagalan. Karena itu, rekomendasi psikolog bukan sekadar hasil satu tes, tetapi merupakan kesimpulan dari keseluruhan proses asesmen," terangnya.
Yulia menceritakan salah satu kasus yang pernah ditanganinya. Seorang anak perempuan berusia 5 tahun 7 bulan dinilai layak memperoleh rekomendasi masuk SD lebih awal.
Baca Juga: BKSDA dan Polres Mesuji Buru Pembantai Tapir yang Viral, Empat Pelaku Berhasil Ditangkap
Selama asesmen, anak tersebut mampu menangkap instruksi dengan baik, bersemangat menyelesaikan seluruh tugas, aktif menyapa tim psikolog, bahkan membantu temannya membuang sampah setelah makan.
Kemampuan motorik kasar dan halusnya berkembang baik, cara memegang pensil sudah kuat dan terarah, serta mampu masuk kelas tanpa harus ditemani ibunya. Meski sesekali mengaku lelah, hasil tes IQ anak tersebut juga berada pada kategori superior sehingga dinilai memenuhi syarat.
Meski demikian, Yulia mengungkapkan dalam praktiknya justru cukup banyak anak yang akhirnya belum direkomendasikan masuk SD lebih awal. Bukan karena kurang cerdas, melainkan perkembangan emosinya belum siap.
Beberapa alasan yang paling sering ditemui antara lain anak belum mampu berkonsentrasi dalam waktu lama, sulit mengikuti aturan kelas, sangat bergantung kepada orang tua, mudah frustrasi saat menghadapi kesulitan, belum mampu mengendalikan emosi, hingga mengalami gangguan perkembangan seperti autism spectrum disorder (ASD) maupun cerebral palsy.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Film Aksi Mirip 'John Wick' bagi Penggemar Sinema Baku Hantam
"Saya selalu mengatakan kepada orang tua bahwa rekomendasi belum siap bukanlah kegagalan. Justru itu adalah bentuk perlindungan agar anak tidak mengalami tekanan belajar yang sebenarnya bisa dicegah. Lebih baik memberikan waktu beberapa bulan untuk berkembang daripada memaksakan anak menghadapi tuntutan yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo