Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Asy-Syifa Balikpapan Pastikan Santri Didampingi 24 Jam, Utamakan Pendidikan Karakter

Nasya Rahaya • Sabtu, 18 Juli 2026 | 17:31 WIB
PRIORITAS: Asy-Syifa Balikpapan menegaskan keamanan santri dan pembentukan karakter menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan.
PRIORITAS: Asy-Syifa Balikpapan menegaskan keamanan santri dan pembentukan karakter menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Munculnya sejumlah kasus kekerasan di beberapa pondok pesantren di Indonesia turut memunculkan kekhawatiran sebagian orang tua yang hendak menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan berbasis asrama.

Menjawab hal itu, Yayasan Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan menegaskan bahwa keamanan santri dan pembentukan karakter menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pendidik Yayasan Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan, Mustain Hasan, mengatakan kecemasan orang tua merupakan hal yang wajar. Karena itu, pesantren harus mampu menjawab kekhawatiran tersebut dengan menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang santri.

Baca Juga: Kasus Oknum Tak Boleh Rusak Kepercayaan terhadap Pesantren, Transparansi dan Perlindungan Santri Harus Diperkuat

“Kami sangat memaklumi kalau orang tua merasa cemas saat mau menitipkan anaknya ke pesantren. Itu respons yang sangat normal. Tugas kami di Pondok Pesantren Asy-Syifa adalah menjawab kecemasan itu dengan lingkungan yang aman dan suportif,” ujarnya.

Menurut Mustain, seluruh aktivitas santri berada dalam pendampingan selama 24 jam. Mulai dari kegiatan belajar di kelas, ibadah, hingga aktivitas keseharian di asrama diawasi oleh ustaz, ustazah, serta musyrif yang bertugas sesuai jadwal.

Pendampingan tersebut, lanjutnya, tidak hanya bertujuan menjaga keamanan santri, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Ia menilai pesantren pada hakikatnya bukan sekadar tempat belajar ilmu agama, melainkan lembaga yang membentuk kepribadian dan akhlak peserta didik.

“Santri dibentuk bukan hanya supaya tahu mana halal dan haram, tetapi juga bagaimana bersikap yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu tanpa akhlak itu berbahaya. Karena itu, penekanan paling kuat di pesantren justru ada pada pembentukan adab, seperti menghormati guru, menghargai sesama, menjaga lisan, disiplin, dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Baca Juga: Marak Kasus Kekerasan, Orang Tua Ini Tetap Percaya Pesantren: Kuncinya Selektif Memilih

Nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari. Santri dibiasakan bangun sebelum subuh, salat berjamaah, mengantre, membersihkan kamar sendiri, hingga belajar hidup bersama dengan teman-temannya.

Mustain juga menegaskan bahwa pesantren memberikan perhatian serius terhadap potensi terjadinya perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya. Menurutnya, santri senior memang diberikan tanggung jawab membimbing adik kelas, namun seluruh proses tetap berada dalam pengawasan pengasuh.

“Kalau ada yang berlebihan, pasti kita tegur. Prinsipnya, mendidik itu bukan menakut-nakuti, tetapi menumbuhkan kesadaran dan adab,” katanya.

Selain pengawasan internal, komunikasi dengan orang tua juga terus dijaga. Meski penggunaan telepon seluler santri dibatasi, pihak pesantren membuka ruang komunikasi agar wali santri tetap dapat memantau perkembangan anak selama menempuh pendidikan.

“Kuncinya ada di komunikasi. Kami selalu membuka ruang agar orang tua bisa ikut memantau perkembangan anaknya. Goal-nya sederhana, kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, mandiri dan siap menjawab tantangan zaman. Sinergi inilah yang terus kami jaga,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Pesantren Asy-Syifa Balikpapan pengawasan santri pondok pesantren Balikpapan keamanan santri pendidikan karakter