Santri Didampingi 24 Jam, Sistem Kepengasuhan Asy Syifa Balikpapan Dipisahkan antara Putra dan Putri untuk Perkuat Perlindungan

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:18 WIB
MITIGASI: Asy-Syifa Balikpapan menerapkan sistem pengawasan berlapis terhadap seluruh santri sebagai langkah preventif mencegah berbagai bentuk pelanggaran maupun kekerasan.
MITIGASI: Asy-Syifa Balikpapan menerapkan sistem pengawasan berlapis terhadap seluruh santri sebagai langkah preventif mencegah berbagai bentuk pelanggaran maupun kekerasan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan menerapkan sistem pengawasan berlapis terhadap seluruh santri sebagai langkah preventif mencegah berbagai bentuk pelanggaran maupun kekerasan di lingkungan pesantren.

Salah satu pendiri Pondok Modern Asy-SSyifa Balikpapan Drs. H. Alfi Taufik, MM mengatakan sistem tersebut dibangun sejak lama sebagai bagian dari tata kelola pesantren modern.

Menurutnya, santri putra dan putri ditempatkan di kawasan berbeda dengan sistem kepengasuhan yang terpisah sepenuhnya.

"Rayon putra dan putri dipisahkan. Di masing-masing rayon ada pengasuh, ada ustaz pengabdian, ada organisasi santri, semuanya memiliki tugas pengawasan masing-masing," bebernya.

Baca Juga: Jangan Asal Pilih, Kemenag Minta Masyarakat Waspadai Pesantren Tanpa Izin

Ia menjelaskan pengawasan tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi juga melibatkan berbagai unsur mulai dari pengasuh asrama, ustaz pengabdian, hingga Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Dengan sistem tersebut, aktivitas santri dapat dipantau selama 24 jam.

Selain itu, ustaz yang telah berkeluarga tidak tinggal di area asrama santri, melainkan di kompleks perumahan guru yang terpisah. "Semua sudah diatur supaya proses pendidikan berjalan aman, baik bagi santri maupun tenaga pendidik," katanya.

Menurut Alfi, setiap pesantren memang memiliki sistem pengawasan yang berbeda. Namun tujuan akhirnya sama, yakni menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Ia berharap kasus dugaan kekerasan maupun tindak asusila yang terjadi di sejumlah daerah tidak terjadi di pondok-pondok pesantren Balikpapan.

Baca Juga: Terus Berkembang, Balikpapan Punya Puluhan Pesantren Dari Salafiyah hingga Modern

"Kami semua tentu berdoa agar kasus seperti itu tidak terjadi di pesantren-pesantren Balikpapan. Karena tujuan pondok adalah mendidik, bukan sebaliknya," ujarnya.

Ia menambahkan pengawasan yang kuat harus menjadi budaya di seluruh lingkungan pesantren, bukan sekadar aturan administratif. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
pengawasan pesantren pengawasan santri Asy-Syifa Balikpapan pesantren Balikpapan pencegahan kekerasan di pesantren