KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan menerapkan sistem pembinaan disiplin bertahap bagi santri melalui mekanisme Surat Peringatan (SP) yang melibatkan orang tua dalam setiap prosesnya.
Setiap pelanggaran tidak langsung berujung pada sanksi berat. Sebaliknya, pesantren mengedepankan pembinaan agar santri memiliki kesempatan memperbaiki diri.
"Kami tidak langsung mengeluarkan santri. Ada proses SP1, SP2 sampai SP3. Semua melibatkan orang tua," kata salah satu pendiri Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan Drs. H. Alfi Taufik, MM.
Menurut Alfi, pelanggaran ringan seperti merokok akan dikenakan SP1 disertai pembinaan dan sanksi edukatif. Apabila pelanggaran yang sama kembali dilakukan, santri akan menerima SP2.
Sementara SP3 menjadi tahap terakhir sebelum keputusan pemberhentian dari pesantren dipertimbangkan. "Tujuannya bukan menghukum, tetapi mendidik. Kami berharap anak bisa berubah setelah diberikan pembinaan," ujarnya.
Setiap penerbitan surat peringatan selalu disampaikan kepada orang tua sehingga keluarga mengetahui perkembangan perilaku anak selama berada di pesantren.
"Kami tidak boleh memberhentikan santri tanpa proses. Orang tua harus tahu dan ikut terlibat dalam pembinaan," jelas Alfi.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih, Kemenag Minta Masyarakat Waspadai Pesantren Tanpa Izin
Ia menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter santri karena pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab pondok, tetapi juga orang tua.
Sistem disiplin bertahap tersebut telah diterapkan selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu instrumen pembinaan karakter di Asy-Syifa. "Kami ingin anak-anak belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mereka lakukan," katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo