KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kalimantan Timur dinilai sudah saatnya mengurangi ketergantungan pada ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Pengembangan industri hilir diyakini mampu memberikan nilai tambah jauh lebih besar sekaligus memperkuat daya saing sawit daerah. Kepala Bidang Usaha Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Wilma Kania Febrina mengatakan, Kaltim memiliki modal besar untuk mengembangkan hilirisasi.
Baca Juga: Tembus Pasar Jawa, Pupuk Organik Asli Balikpapan Malah Ditolak Perusahaan Sawit Lokal
Kaltim menempati peringkat keempat nasional untuk luas areal perkebunan sawit dengan 1,5 juta hektare, peringkat kelima produksi tandan buah segar (TBS) serta CPO masing-masing yakni 19,6 juta ton dan 4,29 juta ton serta peringkat keenam nilai ekspor sawit yakni USD2,48 miliar.
"Artinya kita tidak boleh terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Kita harus menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat daya saing sawit sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Wilma menjelaskan, potensi nilai tambah terbesar justru berada pada produk turunan sawit. Oleochemical, misalnya, mampu menghasilkan nilai tambah sekitar tiga hingga sepuluh kali dibanding CPO mentah.
Sementara produk farmasi memiliki nilai tambah lima hingga 15 kali, kosmetik lima hingga 12 kali, bioplastik empat hingga 10 kali, serta bahan bakar aviasi berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) tiga hingga delapan kali.
Baca Juga: Aturan Pajak dan Retribusi PPU Direvisi, Ada Insentif untuk UMKM hingga Penyesuaian PBB
Selain itu, peluang juga terbuka pada biodiesel, produk pangan, hingga surfaktan yang memiliki pasar semakin luas seiring meningkatnya kebutuhan industri global. Menurut Wilma, arah pembangunan sawit di Kaltim juga sejalan dengan target nasional peningkatan produktivitas minyak sawit.
Pemerintah menargetkan produktivitas meningkat dari sekitar tiga ton per hektare menjadi 3,75 ton pada 2034, kemudian mencapai lima ton per hektare pada 2045.
Target tersebut, lanjut dia, hanya bisa dicapai melalui penggunaan benih unggul, peningkatan efisiensi pabrik kelapa sawit, pemisahan produksi untuk kebutuhan pangan dan nonpangan, hingga perbaikan teknik budidaya pada kebun yang sudah ada.
"Melalui berbagai program unggulan daerah, kami ingin memastikan produktivitas sawit yang berkelanjutan dapat mewujudkan Kaltim sebagai pusat ekonomi baru yang inklusif berbasis industrialisasi dan komoditas unggulan daerah," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki