KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Maraknya kasus remaja yang berani menganiaya guru hingga terlibat tawuran dinilai bukan sekadar kenakalan biasa. Fenomena tersebut menjadi sinyal terjadinya degradasi moral yang dipengaruhi berbagai faktor, terutama derasnya paparan media sosial.
Psikolog Klinis Siloam Hospital Balikpapan Patria Rahmawaty mengatakan, remaja saat ini tumbuh di era digital yang membuat akses informasi berlangsung sangat cepat. Sayangnya, tidak semua informasi yang dikonsumsi mampu disaring dengan baik.
"Media sosial sebenarnya bisa memberikan edukasi kalau dimanfaatkan dengan baik. Tapi kenyataannya sekarang banyak informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan akhirnya dicerna begitu saja tanpa difilter oleh remaja," ujar perempuan yang dipanggil Rahma itu kepada Kaltim Post.
Baca Juga: 25 Ucapan Hari Kanker Paru Sedunia 2026 Penuh Semangat dan Harapan, Ajak Peduli Kesehatan
Menurutnya, kondisi itu diperparah karena masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, membutuhkan pengakuan dari lingkungan, sekaligus masih memiliki emosi yang belum matang.
"Remaja sedang mengalami krisis identitas. Mereka butuh validasi terhadap eksistensi dirinya, sementara kematangan emosinya juga masih dalam proses. Akhirnya mereka lebih mudah mengikuti emosi sesaat dibanding berpikir panjang," jelasnya.
Selain faktor internal, lingkungan juga berperan besar membentuk perilaku remaja. Mulai dari teman sebaya, keluarga yang tidak harmonis, hingga paparan konten di media sosial.
Akibatnya, ketika menghadapi konflik, sebagian remaja memilih melampiaskan emosi secara agresif. Misalnya saat ditegur guru karena merokok, mereka justru merasa paling benar dan menganggap teguran sebagai ancaman terhadap harga dirinya.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!
"Usia remaja memang cenderung pemberontak. Mereka merasa sudah paling tahu, paling bisa, lalu mengabaikan aturan yang ada di masyarakat," bebernya.
Rahma juga menyoroti banyaknya konten kekerasan yang kini mudah diakses. Menurutnya, film, video pendek, hingga unggahan di media sosial perlahan menormalisasi tindakan agresif di mata remaja. "Mereka melihat perkelahian, gangster, mafia atau ujaran kebencian berulang kali. Lama-lama batas antara perilaku yang normal dengan yang tidak menjadi kabur," sebut dia.
Tak heran, banyak pelaku kekerasan justru merekam lalu mengunggah aksinya ke media sosial demi mendapat perhatian. "Yang dipikirkan bukan lagi benar atau salah, tapi bagaimana mendapatkan banyak like, dibagikan orang lain, atau menjadi viral. Itu yang berbahaya," tegasnya.
Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, Rahma mengingatkan dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga masyarakat luas. "Kalau moral tidak dibangun sejak dini, nanti relasi keluarga rusak, perilaku kasar ditiru, prestasi akademik menurun, angka kriminalitas meningkat, bahkan berisiko memicu penyalahgunaan zat. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo