Hormati Guru, Perkuat Karakter Anak Lewat Kolaborasi Sekolah dan Keluarga

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:53 WIB
INSPIRATIF: Lewat komunitas, anak-anak bisa diajari untuk belajar bersama dan berkomunikasi dengan baik antar sebaya dan orang yang lebih tua.
INSPIRATIF: Lewat komunitas, anak-anak bisa diajari untuk belajar bersama dan berkomunikasi dengan baik antar sebaya dan orang yang lebih tua.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan Sinta Ningsih, menyayangkan terjadinya kasus kekerasan terhadap guru yang dipicu teguran kepada siswa karena merokok di lingkungan sekolah.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun karena guru menjalankan tugas mendidik sekaligus menjaga kedisiplinan peserta didik.

Sinta mengatakan pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan akhlak, etika, dan rasa hormat kepada guru maupun orang tua. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting yang terus ditanamkan di seluruh madrasah.

"Guru memiliki tanggung jawab mendidik dan membimbing siswa. Ketika guru menegur pelanggaran tata tertib, itu merupakan bagian dari tugasnya. Kekerasan terhadap guru tidak bisa ditoleransi karena bertentangan dengan nilai pendidikan dan akhlak yang selama ini kami tanamkan," ungkapnya.

Baca Juga: Dari Wedang Jahe hingga Teh Semangka, Menu Minuman Bertema Kemerdekaan Hadir di Yello Hotel

Ia menilai pembentukan karakter anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan. Karena itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah harus terus diperkuat agar setiap persoalan siswa dapat diselesaikan sejak dini.

"Kalau ada perubahan perilaku anak, jangan sampai sekolah bekerja sendiri. Orang tua harus terbuka menerima masukan dari guru, begitu juga sekolah harus aktif berkomunikasi dengan keluarga. Kolaborasi ini menjadi kunci pencegahan berbagai bentuk kenakalan remaja," katanya.

Sinta juga berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh satuan pendidikan untuk terus menguatkan pendidikan karakter, layanan bimbingan konseling, serta pembiasaan nilai-nilai agama dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!

Salah seorang orang tua siswa di Balikpapan Handayani Rina mengaku prihatin dengan maraknya kasus kekerasan terhadap guru. Menurutnya, apa pun alasannya, seorang anak tidak boleh melakukan tindakan fisik kepada pendidik.

"Guru itu orang yang membantu mendidik anak-anak kami. Kalau ada teguran karena merokok atau melanggar aturan, seharusnya diterima sebagai pembelajaran, bukan dibalas dengan kekerasan," katanya.

Ia mengakui peran orang tua sangat menentukan pembentukan sikap anak di sekolah. Karena itu, pendidikan sopan santun dan penghormatan kepada guru harus dibiasakan sejak anak masih kecil.

"Anak lebih banyak belajar dari apa yang dicontohkan di rumah. Kalau sejak kecil diajarkan menghormati orang lain, termasuk guru, insyaallah saat di sekolah juga akan membawa sikap yang baik," ujarnya.

Rina juga mendukung apabila sekolah rutin mengadakan kegiatan parenting agar orang tua memperoleh bekal dalam mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan di era digital.

"Orang tua juga perlu terus belajar. Kadang kita sibuk bekerja sampai tidak sadar anak sedang menghadapi masalah. Dengan parenting, komunikasi antara sekolah dan keluarga bisa lebih baik sehingga masalah anak dapat diketahui lebih awal," tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
parenting sekolah pendidikan karakter Balikpapan akhlak siswa hubungan orang tua dan guru Kemenag Balikpapan