Intervensi Lintas Sektor, Stunting Kukar Terjun Bebas

Dina Angelina • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:34 WIB
ANTUSIAS: Siswa SDN 004 Loa Kulu sedang makan telur bersama di taman sekolah, didampingi oleh fasilitator dalam program Hari Sehat JAPFA.
ANTUSIAS: Siswa SDN 004 Loa Kulu sedang makan telur bersama di taman sekolah, didampingi oleh fasilitator dalam program Hari Sehat JAPFA.

KALTIMPOST.ID, LOA KULU – Sebuah telur rebus di dalam kotak bekal mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Raiz, murid di SDN 004 Loa Kulu, telur itu adalah 'hadiah' istimewa yang dibawanya pulang setiap akhir pekan.​"Saya bawa ke rumah, kasih ke mama dibuat jadi telur rebus dan telur goreng sesuai kesukaan," tutur Raiz polos.

​Raiz merupakan satu dari 14 siswa di SDN 004 Loa Kulu yang terjaring masalah malnutrisi. Lewat program JAPFA for Kids, anak-anak ini mendapatkan pasokan telur saban Sabtu untuk menjadi bekal protein sehari-hari di sekolah selama sepekan.

​Kepala SDN 004 Loa Kulu, Syafransyah, menceritakan bahwa persoalan utama anak-anak yang mengalami kurang gizi di sekolahnya sebagian besar dipicu oleh pola makan. Banyak dari mereka malas makan nasi dan enggan menyentuh hidangan bergizi. Makanan ringan atau jajan sembarangan justru lebih memikat selera mereka.

Baca Juga: Kipas Oranye Khansa dan Inovasi 'Dua Telur', Cara JAPFA for Kids Bebaskan Anak Kukar dari Malnutrisi

​"Pulang sekolah tidak makan, baru terasa lapar saat sore hari," ungkap Syafran. ​Tantangan tidak berhenti pada si anak. Saat awal program dijalankan, Syafran dan pihak sekolah harus berhadapan dengan sikap penolakan dari sebagian orang tua. Banyak yang merasa anaknya baik-baik saja dan tak mungkin tergolong mengalami kurang gizi.

​"Tetapi kami beri pemahaman secara perlahan. Akhirnya para orang tua mengerti dan mau ikut berpartisipasi," lanjutnya. Kemudian demi menjaga semangat anak-anak, sekolah memutar otak. Setiap kali tiba waktu makan bekal telur bersama, lokasinya dibuat berpindah-pindah agar tak membosankan. Mulai dari taman sekolah, perpustakaan, hingga sudut-sudut area hijau lainnya.

​Pihak sekolah juga rutin memantau kehadiran bekal tersebut. Setiap Jumat, suasana makin semarak lewat agenda Hari Sehat JAPFA. Fasilitator datang langsung untuk mengajak murid senam bersama, mengedukasi cara mencuci tangan yang benar, makan telur bersama, hingga menimbang berat dan mengukur tinggi badan.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Penegakan Hukum, Pengadilan Militer IV-16 Balikpapan Gelar Silaturahmi

Puskesmas setempat turut diterjunkan secara berkala setiap bulan untuk mencatat pertumbuhan fisik anak sesuai tabel gizi resmi. Dia bersyukur ada peningkatan yang terlihat dari fisik anak.

Dari yang awalnya tidak mau makan, sekarang jadi mau makan bergizi. “Apalagi kalau makan ramai-ramai, mereka jadi lebih semangat. Kalau anak-anak biasanya cuma minta uang saku saja, tapi ke depan kita harap mereka makin terbiasa makan sehat. Kalau nutrisinya terpenuhi, mereka bisa lebih fokus menyerap pelajaran," ujar Syafran optimis.

​KEROYOKAN LINTAS SEKTOR DI KUKAR

​Potret kecil di SDN 004 Loa Kulu merupakan salah satu potongan mozaik dari perjuangan besar Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam melepaskan diri dari bayang-bayang stunting.

​Secara garis besar, kasus stunting di Kukar bersumber dari persoalan pola asuh, minimnya asupan gizi tepat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta kondisi kesehatan ibu hamil yang kurang terkontrol hingga memicu masalah gizi kronis.

​Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah menjelaskan, kunci keberhasilan penurunan angka stunting di daerahnya tak lepas dari komitmen kuat pimpinan daerah yang memicu gerak bersama hingga ke tingkat tapak.

​Upaya ini membuahkan hasil nyata. Dari hasil survei nasional resmi, angka prevalensi stunting di Kukar sempat menyentuh angka 27 persen pada 2022, menjadi yang tertinggi di Kalimantan Timur. Namun, berkat intervensi spesifik dan kolaborasi ketat, grafiknya terjun bebas dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Program Dana Bergulir Bank Manfaat PPU Disetop, Sisa Tunggakan UMKM Masih Capai Rp 1,17 Miliar

Angka stunting menjadi 17,6 persen pada 2023, lalu melandai ke 14,2–14,3 persen pada 2024 (menjadi yang terendah di Kaltim), dan terus menekan hingga berada di kisaran 12 persen pada 2025. ​"Kukar sudah melampaui target nasional penurunan stunting yang awalnya ditetapkan 14 persen, lalu pusat melakukan review ulang dan target nasional menjadi 18,8 persen," terang Ismi.

​Kunci utamanya terletak pada intervensi spesifik hasil kombinasi dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder). Setiap dua minggu sekali, mereka menggelar rapat konsolidasi digelar di titik-titik lokasi fokus (lokus) intervensi, melibatkan bupati, sekretaris daerah, hingga sektor swasta.

​Seperti program JAPFA for Kids yang turut membantu penyediaan telur hingga inovasi lain seperti Bakti Pantas, tempat semua pihak bergabung sebagai orang tua asuh. “Perusahaan melalui program CSR ikut berkontribusi," jelasnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bangun Infrastruktur, Ini Cara Kodim 0905 Balikpapan Bantu Warga

​Bagi Ismi, pembagian peran antara pemerintah dan sektor swasta yang jelas menjadi fondasi kuat, terlebih di tengah iklim efisiensi anggaran saat ini. "Komitmen lintas stakeholder ini yang terus kami jaga agar angka stunting bisa terus kita tekan," tutup Ismi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
JAPFA for Kids stunting Kukar angka stunting Kukar penurunan stunting Kukar stunting Kutai Kartanegara