SAMARINDA — Surutnya Sungai Mahakam tidak hanya menghambat distribusi dan perjalanan kapal. Kondisi alur yang semakin dangkal juga mengubah profil risiko keselamatan bagi pekerja maupun masyarakat yang masih bergantung pada transportasi sungai.
Dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Dr. Ida Ayu Indira Dwika Lestari, mengatakan perubahan kondisi sungai harus diikuti dengan penyesuaian standar keselamatan.
Menurutnya, operator kapal, pekerja distribusi logistik, petugas pemerintah, tenaga kesehatan, petugas penanggulangan bencana hingga masyarakat menghadapi risiko berbeda dibandingkan saat kondisi sungai normal.
“Sungai yang semakin dangkal dapat meningkatkan risiko kandas, benturan dengan batu atau dasar sungai, kerusakan mesin dan baling-baling, serta kecelakaan akibat perubahan alur yang biasanya dilalui,” paparnya.
Risiko tersebut menjadi lebih kompleks ketika kebutuhan masyarakat terhadap distribusi barang tetap tinggi. Dalam kondisi mendesak, terdapat kemungkinan keputusan operasional diambil dengan mengabaikan batas keselamatan.
“Dalam keadaan kebutuhan masyarakat mendesak, terdapat pula risiko munculnya keputusan untuk tetap beroperasi meskipun kondisi sebenarnya sudah tidak aman,” sebutnya.
Baca Juga: Kekeringan Mahakam Mengancam Akses Air Bersih dan Kesehatan
Distribusi Tetap Jalan, Keselamatan Jangan Diabaikan
Gangguan transportasi sungai akibat surutnya Mahakam telah berdampak terhadap distribusi kebutuhan pokok. Pemerintah Provinsi Kaltim bahkan mengirim enam truk berisi sekitar 62 ton bahan pokok ke Mahakam Ulu pada 17 Agustus karena kondisi sungai menghambat distribusi menggunakan kapal.
Namun, Ida menegaskan kebutuhan menjaga pasokan tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar keselamatan pekerja maupun pengguna transportasi sungai.
“Di sinilah prinsip K3 harus tetap berlaku, kebutuhan menjaga kontinuitas distribusi tidak boleh dibayar dengan menurunkan standar keselamatan pekerja maupun masyarakat,” jelasnya.
Menurut dia, pengendalian risiko perlu dilakukan secara berlapis. Pemantauan kedalaman dan jalur navigasi menjadi langkah awal untuk menentukan apakah suatu rute masih aman dilalui.
Selain itu, operator perlu menetapkan batas aman operasi, menyesuaikan muatan kapal, melakukan inspeksi, menjaga komunikasi selama perjalanan serta memastikan penggunaan alat pelindung keselamatan.
“Pengendalian harus dilakukan secara berlapis, mulai dari pemantauan kedalaman dan jalur navigasi, penentuan batas aman operasi, pembatasan muatan, inspeksi kapal, komunikasi perjalanan, penggunaan life jacket, hingga manajemen kelelahan bagi operator yang bekerja dalam situasi darurat,” katanya.
Profil Risiko Berubah
Dalam perspektif K3, perubahan kondisi lingkungan merupakan bagian dari perubahan profil risiko pekerjaan. Artinya, prosedur yang aman ketika kondisi sungai normal belum tentu tetap aman ketika kedalaman air menurun.
Kapal yang sebelumnya mampu melintas dengan muatan tertentu, misalnya, dapat menghadapi risiko berbeda ketika alur sungai semakin dangkal.
Karena itu, kondisi aktual di lapangan perlu menjadi dasar dalam menentukan keputusan operasional. Evaluasi terhadap kedalaman, jalur pelayaran, kemampuan kapal, muatan hingga kondisi operator perlu dilakukan secara berkala.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan dampak kekeringan Sungai Mahakam tidak hanya berfokus pada bagaimana kebutuhan masyarakat tetap terdistribusi.
Pemerintah dan operator juga perlu memastikan moda transportasi yang digunakan tetap berada dalam batas keselamatan sehingga upaya menjaga kelancaran distribusi tidak menimbulkan risiko baru bagi pekerja maupun masyarakat.
Editor : Muhammad Ridhuan