BALIKPAPAN – Dampak fenomena El Nino mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi tersebut semakin diperparah dengan masuknya periode musim kemarau yang membuat potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara (TNI AU) akan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sejumlah wilayah Kaltim.
Operasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22–27 Agustus 2026. OMC dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air permukaan sekaligus meminimalkan risiko karhutla.
Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan dampak El Nino telah memicu kekeringan di sejumlah wilayah.
Menurutnya, kondisi ketersediaan air di IKN masih relatif aman. Namun, penurunan permukaan air mulai terlihat di sejumlah infrastruktur vital, khususnya di bagian hulu.
Baca Juga: Ancaman Karhutla Meningkat, Jumlah Hotspot Kaltim Agustus 2026 Tembus Rekor El Nino 2015
“Kondisi air di IKN saat ini relatif baik, tetapi permukaan air di Bendungan Sepaku Semoi dan Intake Sepaku sudah mulai menurun. Kita harus mengantisipasi sejak dini, jangan sampai sudah kering baru bergerak,” ujar Danis dalam agenda persiapan OMC di Base Ops Lanud Dhomber, Jumat (21/8/2026).
TNI AU Siagakan Pesawat Casa NC-212
Untuk mendukung operasi modifikasi cuaca, TNI AU menyiagakan satu unit pesawat Casa NC-212 buatan PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat tersebut dilengkapi bahan semai berupa garam natrium klorida (NaCl). Pesawat memiliki kemampuan terbang hingga empat jam dalam sekali perjalanan dengan daya angkut bahan semai mencapai 800 kilogram.
Komandan Lanud Dhomber Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana memastikan personel dan armada telah siap melaksanakan penyemaian awan.
Operasi akan dilakukan setelah BMKG mendeteksi adanya awan hujan potensial atau cumulus di wilayah sasaran.
“Sesuai perintah KSAU, kami siap mendukung penuh operasi ini pada 22–27 Agustus. Kami tinggal menunggu arahan BMKG mengenai titik potensi awan,” ujarnya.
Dua Pekan Kaltim Tanpa Hujan
Meski persiapan OMC telah dilakukan, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan Kaltim telah mengalami kondisi tanpa hujan selama sekitar dua pekan terakhir.
Menurut Djoko, kondisi atmosfer pada musim kemarau membuat pertumbuhan awan tidak bertahan lama.
Pada pagi hari, awan masih kerap terbentuk. Namun, awan tersebut cenderung menghilang saat memasuki siang hari karena kandungan uap air di atmosfer relatif minim.
“Awan yang terpantau potensial saat ini justru berada di perbatasan utara Kaltim,” sebut Djoko.
Karena itu, penyemaian awan harus dilakukan secara cermat agar bahan semai jatuh di wilayah sasaran dan tidak bergeser ke provinsi lain.
Djoko menyebut tingkat keberhasilan OMC secara historis pada musim kemarau berada di kisaran 30 persen. Faktor utama yang menentukan keberhasilan adalah keberadaan awan potensial yang sesuai untuk dilakukan penyemaian.
Meski demikian, BMKG memastikan penyemaian akan segera dilakukan apabila radar mendeteksi awan potensial melintas di atas wilayah sasaran.
“Tetapi, begitu radar mendeteksi awan potensial melintas di atas wilayah sasaran Kaltim, penyemaian akan langsung dilakukan,” tutupnya.
OMC ini diharapkan mampu membantu menjaga ketersediaan air permukaan di kawasan IKN dan wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi salah satu langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan serta karhutla selama musim kemarau.
Editor : Muhammad Ridhuan