Waktunya Pulang Kerja, Gerakan Syalma Namira yang Bikin Pekerja Berani Bercerita

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:51 WIB
EMPATI: Bagi Syalma Namira alias Alma, empati menjadi alasan untuk terus terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Perempuan kelahiran 2000 ini percaya, memahami orang lain dimulai dari kesediaan untuk mendengar. IST/KP
EMPATI: Bagi Syalma Namira alias Alma, empati menjadi alasan untuk terus terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Perempuan kelahiran 2000 ini percaya, memahami orang lain dimulai dari kesediaan untuk mendengar. IST/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ada satu ruang yang tidak pernah sepi dari cerita orang-orang yang lelah. Bukan ruang tunggu klinik, bukan pula meja konsultasi. Namanya Waktunya Pulang Kerja. Di tengah lingkaran itu, ada Syalma Namira.

Perempuan kelahiran 2000 yang akrab disapa Alma ini bukan psikolog, apalagi konselor bersertifikat. Latar belakangnya justru Ilmu Komunikasi. Namun, dari berbagai pertemuan dan cerita yang ia dengar, Alma tahu tak semua orang datang untuk mencari jawaban. Kadang, mereka hanya perlu didengar. “Semudah cuma pengin bisa didengar dan mendengarkan aja sih,” katanya.

Ruang berbagi ini mempertemukan orang-orang asing untuk duduk bersama dan membicarakan hal yang kadang sulit diceritakan di tempat kerja. Tentang hari yang berat. Atasan yang menyebalkan. Karier yang terasa jalan di tempat. Atau sekadar rasa capek yang susah dijelaskan.

Baca Juga: Uji Core Drill Titik Acak Ungkap Fakta Lapangan proyek Preservasi Jalan Nasional di Kutai Barat

Cerita Alma bermula jauh sebelum Waktunya Pulang Kerja ada. Sejak 2019, saat masih kuliah dan rasa ingin tahunya sedang besar-besarnya, ia mulai terlibat dalam kegiatan komunitas, termasuk Rumah Bekesah. Di sana, Alma belajar bahwa orang terkadang hanya membutuhkan ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Bertahun-tahun berlalu. Kesibukan Alma bertambah. Kini ia bekerja sebagai pekerja kantoran. Namun, rutinitas kantor tidak membuatnya berhenti bergerak di dunia sosial yang sudah ia tekuni sejak mahasiswa. Hingga suatu hari muncul pertanyaan sederhana: mengapa tidak membuat ruang berbagi sendiri, khusus untuk pekerja?

“Ih, kok aku pengen ya,” ujarnya, mengenang celetukan yang kemudian menjadi cikal bakal Waktunya Pulang Kerja. Pertama kali digelar pada 18 Desember 2025, konsep Waktunya Pulang Kerja masih sederhana. Sekitar 10 orang duduk bersama, datang dari profesi dan latar belakang berbeda, kemudian berbicara tentang pekerjaan mereka.

Jumlah peserta sengaja tidak dibuat banyak. Alma ingin menjaga percakapan tetap intim agar setiap orang memiliki ruang cukup untuk bercerita. “Selalu 10 orang. Soalnya kita menjaga keintiman aja supaya ceritanya bisa lebih panjang, lebih insightful,” katanya.

Baca Juga: Masuk Kriteria Sekolah Rakyat, Tak Semua Anak Mau Bersekolah: Ada yang Harus Bantu Keluarga

Bertemu orang asing menjadi bagian penting dalam konsep tersebut. Menurut Alma, lingkungan kerja yang sama setiap hari terkadang membuat seseorang hanya mendapatkan perspektif dari lingkaran yang itu-itu saja. Sementara ketika bertemu orang dari profesi berbeda, ada cerita dan pengalaman baru yang bisa dibawa pulang. “Kalau kita ketemu orang asing tuh kita lebih insightful aja sih,” ujarnya.

Karena itu, Waktunya Pulang Kerja tidak sekadar menjadi tempat melepas penat setelah delapan jam bekerja. Ia menjadi ruang untuk melihat bahwa perjalanan karier setiap orang tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Ada pekerja kantoran, pekerja lepas, pekerja jarak jauh, pelaku usaha hingga profesi yang mungkin sebelumnya tidak pernah dikenal peserta.

Tema dalam setiap pertemuan tetap berputar pada dunia kerja. Salah satunya membahas dream job, pekerjaan yang diinginkan dan perjalanan untuk mencapainya. Ada pula sesi refleksi mengenai pekerjaan, sampai diskusi tentang pengalaman pekerja terkait gender di lingkungan profesional. “Intinya bercerita aja deh tentang pekerjaanmu nih, sejauh ini sudah sampai mana membawa kamu,” kata Alma.

Pesertanya pun lintas usia. Pernah ada yang berusia sekitar 18–19 tahun, tetapi ada pula peserta berusia 40-an. Dari Samarinda, gerakan tersebut kemudian eksis ke beberapa daerah selain Samarinda, Balikpapan. Beberapa waktu lalu bahkan sampai ke Jakarta. Sementara di Jakarta, ruang berbicara soal pekerjaan dinilai semakin relevan di tengah ritme kota dan tekanan kerja yang tinggi.

“Ruangnya benar-benar cuma buat ngobrol soal kerjaan. Tapi itu yang dibutuhkan sebagai para pekerja,” tuturnya. Alma tidak menyebut Waktunya Pulang Kerja sebagai komunitas. Tidak ada anggota tetap maupun struktur yang mengikat. Ia lebih memilih menyebutnya sebagai movement atau gerakan.

Setelah pertemuan, peserta tetap terhubung dalam sebuah grup. Di sana, informasi agenda, pekerjaan, peluang kolaborasi hingga kegiatan lain dapat dibagikan. “Jadi, sebenarnya ini tuh hanya perantara aja, untuk teman-teman yang pengin mencari aktivitas lain, pengin membuka peluang lain,” ujarnya.

Baca Juga: Dulu Enggan Sekolah, Kini Anak-anak Sekolah Rakyat Samarinda Mulai Berprestasi

Waktunya Pulang Kerja juga tidak dibangun untuk mencari keuntungan. Kegiatan pada dasarnya gratis, dengan konsep pay as you wish untuk kebutuhan tertentu. Jika ada kolaborasi dengan tempat makan atau brand, kerja sama dilakukan untuk menunjang kegiatan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Waktunya Pulang Kerja Syalma Namira komunitas pekerja Samarinda ruang berbagi pekerja kesehatan mental pekerja