KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Jauh sebelum Waktunya Pulang Kerja diinisiasi, Syalma Namira lebih dulu belajar mendengarkan dari balik meja redaksi. Perempuan kelahiran 2000 yang akrab disapa Alma itu mengawali perjalanan jurnalistiknya sebagai jurnalis magang di Kaltim Post pada 2019. Kala itu, ia memegang sejumlah rubrik, mulai gaya hidup, ekonomi, kriminal hingga olahraga.
Ia juga pernah dipercaya memimpin LPM Sketsa Universitas Mulawarman. Perjalanannya kemudian melebar ke isu yang lebih dekat dengan manusia. Ketertarikannya terhadap isu sosial dan kesehatan mental sebenarnya sudah tumbuh sejak masa kuliah.
Sejak 2020, Alma aktif sebagai copywriter sukarela di Rumah Bekesah. Ia mengelola media sosial dan menulis tentang perempuan, kesetaraan gender serta kesehatan mental. Keterlibatan itu berlanjut ketika ia dipercaya menjadi project manager di Ubah Stigma pada 2022. Salah satu proyek yang dipimpinnya, Bersama Stigma Runtuh, berfokus pada kampanye kesehatan mental anak.
Baca Juga: Waktunya Pulang Kerja, Gerakan Syalma Namira yang Bikin Pekerja Berani Bercerita
“Kita tuh cuma butuh didengerin aja memang,” ujarnya. Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan Waktunya Pulang Kerja. Sebuah support group yang mempertemukan pekerja lintas profesi untuk membicarakan pengalaman, keresahan dan perjalanan mereka di dunia kerja.
Kini, ia menjadi pekerja kantoran, kerjanya masih bersinggungan dengan tulis-menulis. Namun, di luar pekerjaan, ia tetap aktif membangun ruang yang mempertemukan orang dengan cerita berbeda. Jika perjalanan Alma ditarik ke belakang, ada benang merah yang menghubungkan berbagai perannya yakni komunikasi dan manusia.
Latar belakang Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman yang diselesaikan pada 2021 menjadi fondasi dalam perjalanan tersebut. Dari ruang redaksi, dunia pemerintahan, komunikasi strategis, hingga komunitas sosial, ia terus berhadapan dengan cerita manusia.
Ia juga pernah aktif dalam berbagai kegiatan kerelawanan, termasuk Borneo Organization of Student Service, MUISF, PSNMHII dan TEDx Universitas Mulawarman. Pengalaman sosial itu memperluas lingkaran pergaulannya sekaligus mempertemukannya dengan beragam perspektif.
Baca Juga: Diskes Balikpapan Catat Ribuan Kasus ISPA dan Flu Selama Kemarau, Warga Diimbau Pakai Masker
Kini, lewat Waktunya Pulang Kerja, Alma membuka diri jadi fasilitator yang menyediakan ruang agar orang lain bisa saling mendengar. Baginya, pekerja tidak seharusnya hanya dilihat dari jabatan atau profesinya. Ada kehidupan yang lebih luas setelah jam kantor berakhir. “You are more than your job,” tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo