SAMARINDA – Membangun budaya literasi di Kalimantan Timur dinilai tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat membaca buku. Kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, hingga mengambil keputusan secara bijak juga menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang literat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu semangat yang dibawa Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim melalui Festival Literasi Kaltim Out of the Boox. Kegiatan yang berlangsung selama 21 hari itu resmi dibuka melalui soft opening di Aula Tower Kadrie Oening, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Sabtu (29/8).
Pembukaan festival ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara DPK Kaltim dan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor. Di antaranya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Rumah Sakit Jiwa Atma Husada, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim.
Sejumlah perguruan tinggi dan sekolah juga dilibatkan dalam kolaborasi tersebut.
Kepala DPK Kaltim Lisa Hasliana mengatakan, literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar kemampuan membaca dan menulis.
“Pengadaan pasar buku murah ini sejalan dengan tujuan penyediaan buku di Kalimantan Timur yang masih kurang. Kita bangun kesadaran literasi, kemampuan memahami informasi, berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijak. Perpustakaan harus hadir sebagai tempat berkarya dan berkolaborasi,” ujar Lisa.
Baca Juga: Rasio Buku di Kaltim Baru 1:1, Festival Literasi Hadirkan Bazar Buku Murah
Menurutnya, literasi berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai pendidikan, kesehatan, kebencanaan, keuangan, teknologi informasi hingga pengembangan kreativitas.
Karena itu, gerakan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar pengembangan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ekosistem yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Perpustakaan Jadi Ruang Kolaborasi
Konsep tersebut juga sejalan dengan upaya DPK Kaltim memperluas fungsi perpustakaan. Lisa menekankan, perpustakaan tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.
Lebih dari itu, perpustakaan diharapkan berkembang menjadi ruang publik yang mendorong masyarakat untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, sekaligus melahirkan inovasi.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas literasi dapat menyentuh kebutuhan masyarakat yang lebih beragam. Pengetahuan yang diperoleh tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca, tetapi dapat diterapkan untuk memahami persoalan dan menghasilkan karya.
Plt Kepala Dispora Kaltim Rasman Rading turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan festival. Menurutnya, kegiatan literasi dapat menjadi ruang rekreasi yang tetap memberikan nilai edukatif bagi masyarakat.
“Dispora mendukung 100 persen kegiatan berdampak ini karena Festival Literasi memberikan ruang rekreasi di Kalimantan Timur yang edukatif dan nyata bermanfaat,” kata Rasman.
Pada hari pertama pelaksanaan, sejumlah agenda langsung digelar. Di antaranya Talkshow Literasi Keuangan bersama Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kaltim, Talkshow Minat Baca dan Menulis bersama pegiat literasi Syafruddin Pernyata, Workshop Pantun dan Tarsul, serta Workshop Musikalisasi Puisi bersama TBM Tirto.
Beragam agenda tersebut menunjukkan bahwa literasi dibangun melalui berbagai medium. Masyarakat tidak hanya diajak membaca, tetapi juga mendapatkan pengetahuan praktis, berdiskusi, menulis, menciptakan karya, hingga mengekspresikan gagasan melalui seni.
Selama festival berlangsung, berbagai talkshow, seminar, workshop, dan kelas kreatif akan terus digelar dengan melibatkan komunitas serta pegiat literasi.
DPK Kaltim berharap Festival Literasi Kaltim Out of the Boox dapat menjadi momentum untuk membangun gerakan literasi yang berkelanjutan. Gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika festival berakhir, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, dan masyarakat.
Dengan demikian, literasi tidak hanya menjadi aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan masyarakat untuk memahami informasi, berpikir kritis, menghasilkan karya, serta mengambil keputusan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Muhammad Ridhuan