KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Batu bara Kutai Timur (Kutim) tak lagi sekadar dibakar atau dikirim sebagai komoditas mentah. Sebuah proyek hilirisasi dengan nilai investasi fantastis, Rp 41,52 triliun, mulai memasuki tahap pembangunan di Kecamatan Bengalon.
Proyek Bumi Etam Chemical (BEC) Coal to Methanol Project tersebut ditandai dengan groundbreaking, Senin (31/8). Investasi berskala nasional itu diproyeksikan mengolah sekitar 2 juta ton batu bara menjadi metanol, sekaligus membuka peluang penyerapan ribuan tenaga kerja.
Baca Juga: Gaji PPPK Dialihkan ke APBN! DPRD Kaltim: Daerah Berterima Kasih Beban APBD Berkurang
BEC merupakan bagian dari agenda pemerintah dalam mendorong hilirisasi batu bara. Proyek itu juga masuk Proyek Strategis Nasional (PSN), dan diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Perusahaan tersebut dibentuk PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia sebagai pelaksana mandat pengembangan industri hilir batu bara.
Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical Rio Supin mengatakan, dimulainya pembangunan proyek merupakan buah dari proses panjang yang telah berlangsung sekitar 15 tahun. “BEC dibentuk sebagai pelaksana mandat hilirisasi yang diemban PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Penajaman Raperda MBLB Kaltim, Pansus DPRD Minta Sinkronisasi Data Izin dan Tata Ruang
Menurut Rio, pembangunan proyek tersebut diharapkan berjalan sesuai target dan nantinya memberikan kontribusi terhadap penguatan ketahanan energi nasional.
Bagi Pemkab Kutim, proyek bernilai puluhan triliun rupiah itu bukan sekadar pembangunan fasilitas industri. Kehadirannya diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya usaha pendukung.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan, investasi tersebut memperlihatkan besarnya potensi kawasan ekonomi Kutim untuk berkembang seiring masuknya industri pengolahan. “Kehadiran proyek hilirisasi berskala nasional menunjukkan besarnya potensi kawasan ekonomi Kutim untuk mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Penajaman Raperda MBLB Kaltim, Pansus DPRD Minta Sinkronisasi Data Izin dan Tata Ruang
Dia berharap investasi BEC tak berhenti pada pembangunan fasilitas industri. Dampak ekonominya harus terasa hingga masyarakat sekitar melalui terbukanya lapangan kerja dan berkembangnya berbagai sektor usaha pendukung.
Harapan serupa disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto yang mewakili gubernur Kaltim. Menurut dia, proyek BEC menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan hilirisasi sumber daya alam di Kaltim.
Nilai investasi yang mencapai Rp 41,52 triliun, kata Bambang, harus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Salah satu kuncinya adalah memastikan tenaga kerja lokal memiliki kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Jangan hanya membangun pabriknya, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Bayan Craft Art Festival 2026 Resmi Ditutup: Sedot 43 Ribuan Pengunjung, Dorong UMKM Naik Kelas
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menilai posisi Kaltim tetap strategis dalam peta energi nasional. Karena itu, pengembangan industri hilir batu bara dinilai penting untuk mengubah pola pemanfaatan sumber daya alam dari sekadar komoditas menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Proyek BEC, lanjut dia, dapat menjadi salah satu contoh pengembangan hilirisasi batu bara di Indonesia. “Harapannya menjadi contoh keberhasilan hilirisasi batu bara yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri,” katanya.
Menurut Yuliot, industri metanol juga berpotensi memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, investasi tersebut diharapkan menciptakan efek berganda, baik bagi perekonomian daerah maupun nasional.
Baca Juga: Terangi Senambah dan Mulupan, Perjuangan PLN Jangkau 168 Desa di Kaltimra Berlanjut
“Kita ingin investasi ini memberikan efek berganda yang besar. Jika terus dikembangkan dengan baik, akan berkontribusi terhadap terwujudnya visi Indonesia Maju 2045,” ujarnya.
Dengan dimulainya pembangunan, proyek BEC kini memasuki babak baru. Tantangannya bukan hanya memastikan proyek senilai Rp41,52 triliun tersebut selesai, tetapi juga memastikan hilirisasi benar-benar memberi nilai tambah bagi daerah dan masyarakat yang menjadi tuan rumah industri. (*)
Editor : Dwi Restu A